Cooking with A Friend

Saya suka sekali baking kue. Kesukaan saya itu juga baru saya temukan akhir-akhir ini saja, sih. Terutama ketika hari-hari suram dan mood saya sedang super buruk dan biasanya orang sekitar saya kena getahnya  saya bakal lari ke dapur, mengaduk tepung dan apapun yang bisa saya temukan di rak, lalu voila, terciptalah pai apel hangat, atau kue buah. Ya, saya belum jago banget dalam baking atau menghasilkan banyak kue, sih. Tapi ternyata saya betul-betul menyukai masa-masa dimana saya menghabiskan waktu mengocok telur dan krim sampai mengembang, atau ketika berharap-harap cemas menunggui kue dipanggang, bahkan ketika saya membagi-bagikan kue hasil buatan saya ke orang-orang yang saya temui di dapur. Rasanya sungguh menyenangkan!

Jadi ketika saya melihat seorang teman saya di facebook mengunggah foto hasil panggangannya, sebuah roti labu kismis yang sangat menggugah selera, saya sangat sangat excited! Saya pernah memanggang kue, tapi belum pernah mencoba membuat roti. Langsung saja saya tanya resepnya pada teman saya sekalian saya bilang kalau saya suka sekali baking. Teman saya bukan hanya memberikan resep rotinya, tapi juga mengajak saya ikutan kelas memasak yang dia biasa ikuti, dan karena itu pertemuan pertama, saya bisa ikutan secara GRATIS!

Gyaaaaaaa! Saya literally menjerit kegirangan! Dengan segera saya mengiyakan dan teman saya pun berjanji akan membuat temu janji dengan pihak cooking studio. Saya diminta memilih hari dan menu yang ingin kami masak pada hari itu. Akhirnya diputuskan kami akan memasak Risotto dan Roti Jagung pada hari Senin 24 September.

Ternyata sekolah memasak yang diikuti teman saya itu punya banyak cooking studio di Jepang. Sayangnya di prefektur Niigata cuma ada satu, itupun jauh sekali dari kampus saya. Teman saya itu, namanya Yuka-san, memilih cooking studio di Shibuya untuk mempermudah saya karena saya sedang tinggal di Shibuya sampai akhir minggu ini, padahal rumah Yuka-san sendiri sejam dari Shibuya. Yuka-san baik sekali ya! 😀

Waktu sampai di cooking studio, saya cukup terkagum-kagum karena ruangannya cukup besar dan peralatannya lengkap. Banyak sekali oven gas di tengah ruangan. Lalu ada juga beberapa perempuan lain yang tampaknya juga anggota sekolah memasak. Waktu datang kita dipinjami apron hijau, walaupun kebanyakan dari anggota sekolah masak sudah membawa apron mereka masing-masing. Lalu Yuka-san juga tanya apa saya membawa sapu tangan atau serbet. Saya bilang saya tidak bawa karena tidak tahu. Yuka-san minta maaf karena lupa bilang, ternyata kita juga disarankan membawa serbet sendiri yang nantinya berguna untuk melap tangan setelah mencuci piring atau tangan. Oya, bahasa inggris Yuka-san belum terlalu lancar dan bahasa Jepang saya pun masih betul-betul dasar, sehingga selama ngobrol dengan Yuka-san, berkali-kali saya harus mengulang pertanyaan dan butuh beberapa lama untuk Yuka-san memahami pertanyaan saya, begitupun sebaliknya saya mencoba memahami maksud pertanyaan Yuka-san. Tapi yang namanya komunikasi, kalau ada niat pasti jalan terus, kok. Dengan susah payah, kami bisa juga ngobrol asik selama sesi memasak 🙂

Setelah memakai apron, kami siap untuk memasak. Kami dikenalkan dengan seorang perempuan cantik yang ternyata akan menjadi instruktur memasak kami. Kami memanggil instrukturnya dengan ‘Sensei’, eh ternyata bahasa inggris sensei lebih parah dari Yuka-san! 😆 . Setelah digiring ke meja masak, Sensei memulai pelajaran membuat roti dan risotto. Ternyata membuat roti itu jauh lebih simpel daripada membuat kue. Saya masih takut-takut dalam menggiles adonan roti, akhirnya dibantu oleh Yuka-san yang sudah lebih mahir dan luwes. Sugoii, dalam dua menit saja adonannya sudah cantik! Sasuga!

With Sensei and Yuka-san

Membuat risotto sendiri ternyata tidaklah sulit dan bahan-bahannya pun mudah. Sebetulnya risotto yang akan kami buat akan menggunakan bacon, tetapi karena Yuka-san tau saya tidak makan babi, Yuka-san meminta kepada sensei agar tidak perlu memakai bacon untuk risottonya. Ternyata Yuka-san pun punya alergi terhadap daging dan hanya makan ikan saja. Syukurlah, tadinya saya enggak enak kalau nanti makanannya jadi kurang enak gara-gara enggak pakai bacon.

Anyway, risotto juga menggunakan sedikit wine putih untuk menambahkan harum. Saat itu saya juga tanya apa wine putih ini bisa diganti dengan yang lain. Sensei bilang bisa saja diganti dengan Sake Jepang. Eaa sama aja dong kalo gitu, sama-sama alkoholnya 😆

Saya menjelaskan alasan saya bertanya karena di Indonesia agak sulit mencari wine ataupun sake, kalaupun ada pastilah mahal sekali. Itu karena minum alkohol di Indonesia tidak sepopuler di Jepang yang dimana-mana mudah menjumpai kedai sake atau alkohol. Mereka berdua kaget, terutama saat saya bilang kalau saya enggak pernah minum alkohol. Yuka-san langsung bilang “kamu tinggal di Shibuya dan enggak pernah minum alkohol?” sambil terkagum-kagum.

Saat mencuci piring (kita diwajibkan mencuci sendiri peralatan memasak yang sudah digunakan), kami terlibat di sebuah percakapan:

Y (Yuka-san) : Terus aneh enggak buat orang Indonesia melihat banyak kedai sake di Jepang? Apalagi yang nomikai kalau malam hari?

S (saya) : Ya begitu, deh. Tapi saya biasa aja kok.

Y : Lalu orang Indonesia kalau mau refreshing ngapain, dong? Kan mereka enggak minum?

S : refreshing….ngapain ya…*mikir lama* nggg….(iya ya, orang Indonesia kalo lagi stress ngapain sih refreshingnya?)

Y : Saya enggak kebayang deh, kalau saya pasti udah stress bertumpuk banget tuh! Ga bakalan kuat!

Saya sih cuma bales cengengesan aja waktu itu. Sambil mikir dalam hati, iya ya, kita kalo lagi stress kerjaan numpuk atau mau refreshing ngapain ya?

Habis mencuci piring, kami melanjutkan masak-masak stase terakhir alias memanggang roti. Saat inilah kita dikasih break sepuluh menit dan di depan studio sudah disediakan meja berisi teh dingin dan hangat. Karena hawa Tokyo saat itu dingin menusuk, saya memilih teh hangat chamomile yang wanginya enak sekali. Sembari kembali ke meja masak kami, Yuka-san melihat masakan meja sebelah yang diisi seorang gadis sebaya saya yang sibuk membentuk cake stroberinya. Saya jadi ikutan tertarik. Tapi ternyata si mbaknya judes banget. Kayanya enggak seneng kalo diganggu. Baru kali itu saya melihat mbak-mbak judes di jepang, kirain semua orangnya ramah #naif.

Akhirnya masakan kami jadi! Roti keluar dari panggangan dan hasilnya sempurna! Risotto juga terlihat menggiurkan!

Risotto and Corn Bread

gyaaaaaaaaaa! My very first bread! Made by my own hand! Gyaaaaaaa!!

Rasanya pun uenaaaaaaaaaaaaakkkk!!! Saya jadi pingin bikin lagi yang lainnya! Sayangnya saat proses membuat roti ini ada yang namanya proses pengembangan dan adonan sebaiknya disimpan di tempat hangat bertemperatur 41 derajat celcius. Di studio ini mereka punya alatnya, tapi kalo di rumah saya pake apa dong? 😦

Gapapalah, mungkin kapan-kapan saya bikin sendiri pas lagi iseng. Yang jelas saya senang banget bisa ikutan kelas memasak bareng Yuka-san dan Sensei. Seru dan lumayan bisa dapet makan malam gratis! hehehehe

1 Year of Autumn

Because I have limited access to internet in my apartment and probably I will not be able to post this entry tomorrow or the day after, let me just post this in advance.

Tomorrow  we will visit Tokyo Sea Life Park. Well, at least that’s our plan. It’s a date, right? 😉

I love going on a date with you, although deciding a place can take some tims as we have very different preferences on how to spend vacation and where.

Like I love picnic, walking slowly in a park, holding hands, watching those lovely kids while imagining to have some of our own playing hide and seek, eating foods I cooked or matcha ice cream we bought in the ice cream shop; with me unable to finish the ice cream but insisted to keep trying because I love ice cream. Telling stupid jokes, tickling your belly and we laugh. Realizing how happy we are. Oh, how I love that scene!

While I am satisfied with spending the whole day in the park, you would rather go to many places in one day. Jumping from this temple to another, seeing one street and fly to other place. Well, you know I get tired very easily and I can be so lazy to walk. I even begged for you to give me piggy-back ride, which is obviously and wisely refused. 😛

Anyway, tomorrow’s place for date is my preference, which made you dumbfounded when I told you with great excitement just how much I want to go to Tokyo Sea Life Park. Ah, come one, we’ve got to see inside of the sea, won’t that be amazing? xD

But you know what, you are right that we need to go to many places instead of just spending time in one place. In fact, there are many places I want to go with you, meeting more people with you, telling many stories to you, seeing changing seasons next to you, and trying weird cuisines with you.

I want to laugh more,

to love more

and to be loved.

It’s really sort of happy feeling that can never be replaced by anything.

Thank you for one year of lovely autumn we have shared, it was fulfilling, it couldn’t be more happier, it couldn’t be more lovelier.

Thank you for putting up with me, for taking care of me, for just always being there.

It’s autumn in Tokyo, it will be always autumn in my heart. 🙂

Looking forward for tomorrow’s date, and the day after, and the countless days after…

Shalat dan Kerja

Postingan kali ini terinspirasi dari kejadian yang barusan saya alami di kantor.

Jadi hari ini saya ditraktir makan siang oleh seorang teman kantor (orang Jepang) yang pernah selama tiga setengah tahun tinggal di Indonesia, namanya Yamamoto-San. Yamamoto-San bisa berbahasa Indonesia cukup baik walaupun bahasa yang digunakan cukup baku dan jadul. Tapi cukup menyenangkan bisa ngobrol bersama Yamamoto-san soal Indonesia, ternyata beliau sudah pergi ke banyak tempat di Indonesia yang justru saya belum pernah datangi.

Ketika ngobrol-ngobrol Yamamoto-san tanya pada saya, “gimana shalat nya? Susah ya shalat Lohor dan Ashar di kantor? Tempatnya sempit ya? Sudah bilang Yamada-san(HR) soal ini?”. yang saya cuma jawab dengan gelengan dan senyuman. Saya memang tidak pernah bilang ke bagian HR mengenai jadwal sholat saya. Selama ini ya sekenanya memikirkan tempat sendiri dan curi waktu, kadang-kadang malah bolong karena kelewatan (T__T), yang jelas kadang saya sendiri masih suka ignorant soal ini. Waktu itu saya cuma menanggapi dengan simpel soal ini dan pembicaraan pun teralih ke hal-hal lain.

Yamamoto-san ternyata orang Jepang yang betulan sudah lama di Indonesia. Soalnya begini, biasanya ketika saya diajak makan siang bersama teman kantor lain di Jepang, saya pasti selalu bayar sendiri. Ternyata bersama Yamamoto-san, diajak itu berarti ditraktir oleh beliau. Iya, itu gaya Indonesia sekali (menurut saya) ajakan pertama itu biasanya membayari (basa-basi ala Indonesia). Saya jadi terkesan sama Yamamoto-san, ini kali pertama saya ditraktir sejak berkali-kali keluar makan siang bareng teman kantor.

Yang bikin saya lebih kaget lagi, waktu sudah sampai kantor dan kembali kerja, tiba-tiba saya mendapat email dari beliau yang isinya begini:

Grace-san,

Terima kasih atas sama makan siang hari ini.

Aku minta pada Yamada san agar Grace san dapat lancar bershalat Lohor, Asar, dan Magrib di sini.

Mungkin tidak ada tempat cukup luas tapi aku yakin ia berusaha dapatnya secepat.

Kalo ada masalah yg lain, tolong kasi tahu ya.

Bayangkan apa reaksi saya menerima email ini!

Saya kaget campur terharu bukan main. Pasalnya saya sendiri enggak pernah meminta atau menyebut apa-apa soal jadwal shalat saya, malah kadang-kadang saya take for granted, eh malah saya diingatkan untuk shalat sama orang non-muslim! Duh, hati rasanya trenyuuuh gitu!

Memang sih rada sulit untuk shalat di sela-sela kerja, rasanya minta mereka ngerti aja udah bagus, eh ini saya dimintakan ijin khusus dan tempat khusus. Gimana saya ga terharu? *berkaca-kaca*

Anyway, saya belum dapat kabar apa-apa dari Yamada-san, tapi begini saja rasanya sudah cukup buat saya. Apa ya, semacam “kimochi dake jyuubun desu” alias “Only intention is enough”. Kira-kira gitulah :mrgreen:

Akhirnya yang saya bisa lakukan adalah berterima kasih banyak-banyak dan nawarin rendang untuk besok dibawa ke kantor. Mungkin kapan-kapan saya akan ajak Yamamoto-san makan di Restoran Indonesia dekat kantor, saya yang traktir tentunya! 😀

Magang di Jepang

Hal-hal yang saya temukan selama saya magang di Tokyo, Jepang:

1. Otsukaresama Desu!

Pertama kali denger kalimat sapaan ini dari dorama dan anime-anime yang saya tonton sebelum ke Jepang. Biasanya diucapkan setiap mau pulang kerja. Tapi ternyata saya kecele juga waktu beneran ngerasain kerja di Tokyo karena “otsukaresama desu” tidak seperti di dalam bayangan saya.

Dua hari pertama saya bingung bukan main, kenapa setiap saya berpas-pasan ketemu orang di toilet, di hallway, di lift, semua orang tiba-tiba bilang “otsukaresama desu” sambil mengangguk? Memangnya sudah jam pulang, ya? Atau saya udah disuruh pulang?

Tadinya saya pikir saya diusir alias disuruh pulang karena kerjaan saya sudah selesai (huu maunya), tapi pas saya lihat ternyata semua karyawan begitu terhadap sesamanya. Saya tanya pacar saya yang udah lumayan lama kerja di Jepang, dia bilang di perusahaan dia enggak common untuk mengucapkan otsukaresama desu tiap saat kaya gitu. Akhirnya saya tanya sama supervisor saya. Beliau menjelaskan bahwa ucapan “otsukaresama desu” itu berfungsi seperti greeting biasa seperti selamat siang atau selamat sore untuk diucapkan tiap bertemu dengan karyawan lain yang jaraknya jauh/lama ga ketemu pada hari itu. Sedangkan kalo dengan karyawan lain yang duduk di sekitar kita enggak perlu mengucapkan itu kecuali saat mau pulang, misalnya.

Nah, dia juga menjelaskan kalau mau pulang lebih enak mengucapkan “O saki ni shitsureishimasu” ketimbang otsukaresama desu. Maksudnya kita bilang mau pulang duluan. Biasanya sih nanti dibalesnya “otsukaresama desu”. Itu sih menurut pengalaman saya disini. Tentu saja tiap kantor punya working culture yang berbeda-beda.

2. Sikat gigi di toilet tiap selesai jam makan siang.

Ini salah satu kebiasaan orang Jepang yang rada ngagetin buat saya. Tiap selesai jam makan siang, wastafel di toilet biasanya ditongkrongi beberapa karyawati yang sibuk sikat gigi. Kebiasaan ini kayanya dimulai dari sejak kecil, soalnya waktu saya kunjungan ke sebuah SD di deket kampus, tiap abis jam makan siang pasti ada sesi sikat gigi bersama yang dibimbing oleh gurunya.

Orang Jepang sehat-sehat amat ya!

3. When did you touch up your make up?

Ini adalah keheranan pribadi saya sama cewek-cewek Jepang yang make upnya tidak pernah terlihat berubah dari sejak pagi sampai mau pulang. Pasalnya saya nyaris enggak pernah liat cewek-cewek itu retouch make up mereka di toilet. Sikat gigi sih iya, tapi retouch make up? Enggak pernah!

Kalau di kantor-kantor di Jakarta, saya sering liat mbak-mbak kantoran retouch make up di toilet atau di musholla. Kalo di Jepang, kapan ya mereka retouch? Apa kualitas make upnya bagus banget sampe enggak luntur dan berubah gitu, ya?

4. Bento dan Teishoku

Makan siang itu biasanya saya beli bento (lunch box) yang banyak dijual di daerah perkantoran. Harganya bervariasi, tapi relatif lebih murah daripada makan di restoran (sekitar 500 – 600 yen). Nah kalo saya lagi diajak makan bareng diluar (bikin kere! T__T), kebanyakan di tiap restoran pasti menyediakan teishoku alias meal set. Jadi biasanya dengan 1,000 yen, saya dapat makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup dan minum. Menu paket ini sebetulnya sih jatuhnya lebih murah daripada ala carte. Gatau kenapa pesan makanan model ala carte enggak populer di Jepang.

5. A park next to my building!

Yep! Ini yang paling bikin saya terkagum-kagum sama landscape nya Tokyo. Segitunya banyak gedung bertingkat, tapi enggak lupa sama hijau-hijauan. Saya magang di dua kantor yang lokasinya berjauhan di Tokyo. Dan di kedua kantor tersebut, tiap saya melongok ke luar jendela, saya bisa melihat hijau-hijauan alias pohon besar diantara gedung-gedung Tokyo. Ada taman yang cukup luas dan menyenangkan di sela-sela kesibukan Tokyo dan hal inilah yang bikin saya iri setengah mati. Bahkan beberapa teman saya mengajak saya untuk jogging bareng sehabis jam kantor selesai. Dan ini hal yang sangat lumrah di Tokyo. Sore hari adalah jam jogging atau jalan-jalan sore bersama anak atau hewan peliharaan. Look, your life is balance this way, right?

6. After 5pm. Nomikai?

Saya sendiri belum pernah ikut atau diajak ke acara nomikai alias minum-minum selepas kerja. Pacar saya sih bilang dia beberapa kali ikut. Ini adalah tempat kita bersosialisasi sama orang-orang kantor. Tapi lucunya, saat nomikai itu kita harus ikut patungan dengan sistem bayar patungan. Jadi sekalipun kita cuma minum jus jeruk, kita harus bayar sama banyaknya dengan yang minum sake berbotol-botol. Tentu saja ini enak di dia enggak enak di kita XD

Kebetulan waktu saya magang, saya diajak ke acara networking party yang namanya “after 7” alias setelah jam 7 malam. Acara ini bukan acara internal kantor, sih. Malahan kantor diundang sebagai VIP guest. Acara itu sendiri sih bertujuan untuk membangun network demi bisnis ke depannya. Untuk hadir biayanya adalah 4,000 yen per kepala. Karena saya anak magang, akhirnya saya digratiskan XD. Karena saya penasaran sama Roppongi (acaranya di Roppongi), akhirnya saya setuju ikut. Udah deg-degan karena saya pikir acaranya bakalan formal dan banyak orang penting yang hadir (biasanya ada presentasi perusahaan juga). Eh enggak taunya acaranya di Bar kecil dengan lampu kelap kelip dan musik super kenceng! Persis kayak lagi clubbing tapi bedanya kita tukeran kartu nama! Yang lebih gila lagi, pas jam 10 malam, ada pole dancing! 😆

Saya sendiri rada syok (juga temen kantor saya!), dan memutuskan untuk pulang setelah tiga puluh menit berdiri dan makan tiga potong pizza vegan. Ya lumayanlah pizza gratis 😛

Besokannya saya dikasih tau bahwa acara tersebut enggak biasa di budaya Jepang dan karena sponsor utamanya adalah Chamber of Commerce US, jadi EO nya mau mengikuti networking party dengan western style, sekalian untuk menarik perhatian para profesional muda untuk hadir. With pole dancing? I bet they will! 😆

7. Otaku? Yikes!

Setiap orang yang ngajak saya makan siang pasti punya pertanyaan yang sama: kenapa saya memilih kuliah di Jepang.

Buat saya pertanyaan itu rada aneh, soalnya ini Jepang gitu loh, negara dengan teknologi maju dan empat musim. Siapa sih yang enggak mau ke Jepang? Lain kalo saya kuliah di negara Ghana, misalnya. Itu kan baru jadi pertanyaan, kenapa Ghana? (tiada maksud mendiskreditkan Ghana, tapi kan butuh alasan khusus kenapa milih Ghana, ya nggak sih?). Anyway, karena saya bingung jawab, akhirnya saya bilang kalau saya udah tertarik sama Jepang dari kecil sejak saya ngikutin anime, manga dan dorama Jepang. Yang ada ujungnya saya ngaku kalo saya itu ex-otaku. Trus respon mereka pasti kalo enggak mengernyit (kaya rada aneh gitu), ketawa, atau ada yang malah geleng-geleng heran.

Ternyata jadi otaku sama sekali bukan hal yang membanggakan disini. Beberapa ada yang ikutan semangat cerita soal kesukaannya terhadap anime, tapi beberapa malah menyayangkan kenapa anime dan manga segitu terkenalnya sampe merepresentasikan Jepang. Salah satu temen saya malah dengan lantang bilang kalo “matcha, samurai, temple, ikebana” harusnya adalah hal-hal yang bikin orang kenal Jepang, dan bukannya AKB48 atau anime! Woalah 😆

Jadi apa saya bakal kapok bilang saya mantan otaku? Otentutidak, soalnya itu jawaban paling gampang yang bisa saya temukan sih..hehe

8. The power of lebay

Orang Jepang itu lebay dalam mengekspresikan sesuatu! Misalnya, kalau kita mau minta tolong sesuatu sama seseorang, kita harus bilang “onegaishimasu” berkali-kali dengan anggukan yang kelihatan tulus. Atau waktu kita mendapatkan bantuan dari seseorang, kita harus bilang terima kasih berkali-kali pula. Pokoknya sekali itu enggak cukup deh kayanya. Apalagi kalau bikin kesalahan, kudu minta maaf berkali-kali dan terlihat sangaaaaatttt menyesal! Lebay banget deh!

Mungkin ini karena orang Jepang sangat menghargai makna orang lain. Maksudnya mereka sebisa mungkin enggak mau menyusahkan atau merepotkan orang lain, jadi kalau sampe itu terjadi, mereka menghargai betul orang lain yang terlibat. Walaupun memang tugas mereka untuk terlibat, tapi tetep aja begitu.

Ini sebabnya saya keikutan jadi lebay (walau dasarnya saya emang udah lebay), setiap saya minta tolong sesuatu saya bakal bilang “onegaishimasu” berkali-kali dan untuk hal kecil sekalipun seperti dikasih tau sesuatu, saya akan bilang makasih berkali-kali pula. Pokoknya sampe si orangnya ngerasa bahwa saya berterima kasih banget atas bantuan dia.

Tapi lama-lama saya jadi kepikiran, kalau kayak gitu, bisa ga ya kita ngebedain ucapan yang tulus dan yang cuma sekedar ngikutin budaya? Enggak tau juga, sih. Yang jelas rasanya memang lebih menyenangkan menerima ucapan lebay karena rasanya lebih dihargai ketimbang ucapan “makasih” sekenanya dan sambil lalu.

Sekian beberapa hal yang saya temukan selama saya magang disini. Kalo ada salah-salah, silahkan dikoreksi! 😀

Cinta

Cinta itu bau tengik.

Kataku,  saat kau sodorkan buluh bambu dengan kain koyak di ujungnya

Cinta itu bau anyir.

Katamu, saat aku lempar kue berjamur sisa ulang tahun pamong raja lima hari lalu

Cinta itu

tergantung pada apa yang tanganmu beri

dan tergantung pada apa yang lima panca inderaku terjemahkan.

Ya sesimpel itu.

Proses Saya dalam Mencari Sekolah di Jepang Bagian 3 – End

Hosh hosh, ini postingan borongan saya dalam dua hari ini. Maklum blogger lama ga nulis, sekalinya nulis langsung cepet capek. Jadi daripada bagian terakhir kelupaan karena kelamaan hiatus, saya tulis sekarang aja :mrgreen:

Oke, pada tahap ini seharusnya anda sudah menerima hasil dari aplikasi anda.

Jadi apa yang terjadi setelah ini?

Continue reading

Proses Saya dalam Mencari Sekolah di Jepang Bagian 2

Sudah membaca bagian pertama tulisan ini dan sudah punya yang saya sebutkan disana?

Bagus, sekarang anda siap memulai proses berikutnya:

2. Registration process

Proses registrasi ini tentu saja berbeda-beda di tiap universitas/program beasiswa. Tapi saya akan mencoba menjelaskan berdasarkan pengalaman saya dan umumnya ya.. Continue reading