Proses Saya dalam Mencari Sekolah di Jepang Bagian 2

Sudah membaca bagian pertama tulisan ini dan sudah punya yang saya sebutkan disana?

Bagus, sekarang anda siap memulai proses berikutnya:

2. Registration process

Proses registrasi ini tentu saja berbeda-beda di tiap universitas/program beasiswa. Tapi saya akan mencoba menjelaskan berdasarkan pengalaman saya dan umumnya ya..

  2.1 Menetapkan Pilihan Universitas

Ini tentu saja yang paling dasar sebelum mulai pendaftaran. Setelah melakukan mini research tentang universitas/program beasiswa, langkah selanjutnya adalah menetapkan pilihan. Memang baiknya kita mencoba semua celah dan kesempatan sebanyak-banyaknya (apply sebanyak-banyaknya ke banyak tempat), tapi tentu saja ini tidak mudah. Proses aplikasi itu memakan waktu, tenaga, dan biaya. Yang sudah bekerja pasti merasakan susahnya menyisihkan waktu untuk mempersiapkan proses aplikasi, yang belum bekerja pasti merasakan susahnya menyisihkan biaya untuk proses aplikasi (yang kadang bisa mahal!). Jadi saran saya, pilihlah tiga atau empat universitas yang paling diminati dan sebanyaknya program beasiswa (ini karena program beasiswa biasanya murah atau free).

Berikut ini beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan saya dalam menetapkan pilihan:

a) Deadline

Pilihlah universitas yang deadline nya tidak terlalu mepet, atau sesuaikan dengan ketersediaan semua persyaratan. Misalnya kalau kita belum punya sertifikasi bahasa asing yang diminta dan merasa belum begitu pede untuk mendapatkan secepatnya, maka cari universitas dengan deadline setidaknya 4-5 bulan ke depan atau lebih. Tapi kalau semua dokumen sudah siap, maka bisa mencari yang deadline-nya rada mepet. Ingat juga proses aplikasi itu lama dan bisa jadi rumit. Belum lagi lama pengiriman formulir aplikasi (kalau menggunakan jasa pengiriman seperti pos), maka hal-hal seperti ini harus benar-benar dipertimbangkan.

b) Ketersediaan beasiswa dan jenisnya

Tentu saja ini penting bagi yang mengejar sekolah gratis. Cari informasi sebanyaknya tentang ketersediaan beasiswa berikut persyaratan tentang beasiswa tersebut. Jangan ragu untuk bertanya kepada pihak Admission tentang beasiswa yang tersedia dan informasi yang berkaitan lainnya. Jenis-jenis beasiswa juga bermacam-macam, ada yang hanya memotong separuh dari tuition fee, ada yang memberikan biaya hidup saja, ada yang hanya menutup tuition fee tapi tidak memberikan biaya hidup, yang paling enak ya yang memberikan kita uang tuition fee dan biaya hidup! :mrgreen:

c) Persaingan

Yap, kita bukanlah satu-satunya pencari sekolah gratis. Seperti yang saya bilang di bagian pertama, persaingan di program beasiswa relatif lebih tinggi ketimbang per universitas (tergantung juga sih universitasnya yang mana..hehe). Waktu saya mendaftar di Erasmus Mundus MAPP, saya kemudian diundang untuk bergabung di facebook page para pendaftar lainnya, dan jumlah mereka ratusan dari seluruh dunia dengan kualifikasi yang jauh diatas saya. Jadi ya sangat masuk akal saya langsung ditolak di saringan pertama (haha!). Waktu mendaftar di Australia Award malah lebih parah, saya ga pernah denger kabar lagi dari mereka! Memang sih waktu saya menyerahkan formulir aplikasi, saya orang ke entah berapa ratus. Jadi mungkin itu sebabnya saya ga pernah denger hasil dari aplikasi saya (hiks)

Untuk persaingan di universitas, memang tergantung seberapa populernya universitas tersebut. Misalnya untuk sekolah sebesar Harvard, Yale, Oxford, pastinya persaingannya tinggi, terutama untuk pencari beasiswa. Tapi menurut pengalaman kawan saya, kadang kriteria lain semacam kewarganegaraan atau agama bisa menjadi pertimbangan untuk mereka. Beberapa universitas ingin punya presentase murid internasional yang rata dari belahan dunia, jadi kalau kita beruntung bisa saja kita diterima karena mau memenuhi kuota murid internasional mereka.

Pengalaman saya di NUS (School of Public Policy LKY), waktu akhirnya saya dipanggil untuk interview oleh mereka, saya melihat para pendaftar lain dari Indonesia. Jumlah mereka totalnya sekitar 25-28 orang termasuk saya. Dari 28 orang ini yang akan mendapat beasiswa hanyalah sekitar 4-5 orang. Jadi ya lumayan juga saingannya 😀

Untuk IUJ (kampus saya sekarang), saya memang tidak pernah tahu jumlah saingan saya saat itu. Waktu itu yang jadi pikiran saya IUJ itu sekolah baru dan kayanya belum terlalu populer (hehe). Taunya waktu saya sampai di IUJ, isinya 20% orang Indonesia! hahaha

Kalau di kampus saya sekarang memang orang Indonesianya kebanyakan berasal dari program beasiswa pemerintah alias mereka PNS. Sementara non-PNS nya hanya sekitar 5-6 orang saja. Jadi saya pikir untuk persaingan di kampus saya waktu itu masih lumayan lah.

d) Biaya hidup

Kalo tinggalnya di daerah gunung dan sawah kayak saya gini, jaminan jauh lebih hemat. Ga bakalan tergiur belanja macem-macem deh 😀

Ini menjadi pertimbangan yang sangat penting terutama untuk yang tidak mendapatkan full-scholarship. Pun kalau mendapatkan full-scholarship, perhatikan apakah jumlah beasiswa yang diberikan akan betul-betul cukup atau tidak. Perhatikan apakah kampusnya berada di daerah pedesaan yang biaya hidupnya relatif lebih murah atau justru kampus berapa di pusat kota yang semuanya mahal? Beberapa negara memperbolehkan kita untuk mencari kerja sambilan dengan waktu yang terbatas. Ini bisa membantu sekali.

e) Prospek setelah lulus

Ini pasti berbeda bagi setiap orang. Apa yang kita mau lakukan setelah lulus nanti? Bekerja? Melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi? Atau menjadi akademisi?

Setiap sekolah punya keunggulan masing-masing. Sekolah saya sekarang misalnya, punya koneksi ke perusahaan-perusahaan besar dan terkenal dengan career counseling nya yang bagus. Ikatan alumni yang kuat untuk networking dan prospek mencari kerja nantinya (mudah-mudahan saya gampang cari kerja nanti, amin!). Sebaliknya untuk akademisi tampaknya kurang begitu menonjol. Universitas lain mungkin situasinya terbalik. Jadi pilih universitas yang paling sesuai dengan impian dan tujuan anda setelah lulus nantinya.

e) Biaya aplikasi

Saya sudah menyebutkan tadi bahwa biaya aplikasi bisa sangat bervariasi. Sekolah swasta bisa mahal sekali, sekolah negeri bisa murah dan malah gratis. Jadi misalnya anda mau mendaftar di banyak universitas, coba saja kombinasikan dari mendaftar sekolah yang biaya aplikasinya mahal dan tidak terlalu mahal (kalau bisa semuanya sih murah). Saya dulu juga begitu, karena satu sekolah sudah mahal banget biaya aplikasinya (IDR 700k), jadi satu aplikasi lain saya cari yang biaya aplikasinya murah atau medium. Kalau enggak, bisa jebol duluan dompet saya! 😆

  2.2 Siapkan semua dokumen

Setelah menetapkan pilihan universitas (bisa lebih dari satu), maka siapkan semua dokumen yang diminta dalam proses ini. Tentu saja ini sudah bukan lagi tentang sertifikasi bahasa asing dan ijazah/transkrip nilai/akta kelahiran yang sudah diterjemahkan. Yang saya sebutkan tadi harus bin wajib disiapkan jauh sebelumnya. Dokumen yang saya maksudkan disini adalah

a) Formulir aplikasi

Bisa didapatkan dari website sekolah/program beasiswa secara gratis.

b) Receipt admission fee

Biasanya diminta fotocopy-nya, simpan aslinya supaya kalau ada apa-apa bisa mengirimkan ulang.

c) Recommendation Letter

Ini yang sebenernya paling bikin saya pontang-panting. Waktu itu sih sebetulnya karena dosen-dosen saya ada di Malaysia, sementara posisi saya sudah di Indonesia. Saya harus merelakan waktu dua minggu nginep di tempat teman saya untuk ngejar-ngejar dosen saya untuk membuatkan saya surat rekomendasi. Beberapa universitas memperbolehkan surat yang ditulis oleh dosen/supervisor langsung (maksudnya tanpa formulir dari universitas yang akan dituju). Beberapa universitas sudah menyediakan formulir dan menentukan formatnya. Beberapa universitas bahkan meminta dosen yang mengirimkan langsung surat rekomendasi. Kalau sudah begini biar enggak repot, saya biasanya menyerahkan amplop sekaligus perangko untuk sang dosen ketika memberikan formulir rekomendasi. Ini supaya dosen ga perlu repot-repot beli perangko. Untuk mendapatkan surat rekomendasi, pertimbangkanlah hal-hal seperti kedekatan dengan dosen/supervisor tersebut, jabatan dosen/supervisor, dan kredibilitas dosen/supervisor tersebut. Biasanya makin tinggi jabatan dosen/supervisor, maka makin sibuklah ia. Pandangan sang dosen mengenai sekolah/jurusan yang kita mau tuju juga berpengaruh lho. Pernah saya ngejar satu Professor di kampus saya yang namanya sudah terkenal di kalangan akademisi dunia, untuk saya minta membuatkan surat rekomendasi. Tahunya waktu saya bilang saya mau masuk ke School of Public Policy LKY, beliau malah bilang

“I do not like LKY’s approach and policy, why on earth you want to go to his school?”. Ealaaaah! 😆

Jaman dulunya kok LKY rada mirip seseorang ya 😆

Walaupun akhirnya beliau bikin juga sih surat rekomendasi buat saya. Tapi ya isinya apa saya juga enggak tahu, soalnya beliau kaya ga rela saya masu masuk ke School of Public Policy LKY (dan keinginan beliau terkabul! haha)

Jumlah surat rekomendasi yang diminta juga bisa berbeda tiap universitas. Standarnya sih 2. Tapi saya pernah diminta 3. Biasanya kalau saya minta surat rekomendasi sih sekalian untuk semua universitas yang saya mau daftar, jadi ga mesti bolak-balik. Kalau perlu minta dosen/supervisor untuk fotokopi surat rekomendasi yang beliau tulis sendiri (bukan di formulir) dan tanda tangani. Kalau sudah begini tinggal kita masukkan amplop dan minta segel beliau. Kita jadi punya banyak cadangan!

d) Research proposal

Sempet keder juga waktu saya disuruh bikin research proposal, lha wong saya lulus S1 itu by coursework alias enggak bikin skripsi. Jadi manalah saya tau bentuk research proposal itu apa!

Tapi saya beruntung punya banyak teman yang baik banget dan banyak membantu saya di proses ini. Temen saya si Lambrtz yang bahasa inggris akademisnya saya anggap udah cukup dewa, banyak sekali memberikan masukan dan dengan baik hati mau mengecek research proposal saya secara cuma-cuma. Dia juga memberikan contoh-contoh research proposal yang baik dan benar dari berbagai sumber di internet. Pokoknya saya banyak terbantu saat itu deh! Jadi kalo bisa dan punya teman atau dosen yang memang anda rasa kredibel untuk membantu anda (juga bersedia tentunya), jangan malu untuk minta bantuan. Sebagus apapun bahasa inggris anda atau akademis anda, tidak ada salahnya untuk meminta opini dan komentar dari pihak lain. Siapa tahu anda malah dapat ide baru!

Oya, jangan terlalu frustasi soal research proposal ini. Memang ini fungsinya untuk pihak kampus mengetahui minat dan area apa yang mau kita perdalam nantinya, tapi ini tidak solid as rock, kok. Dalam artian, kita masih bisa mengganti topik kita lagi nantinya, tentu saja masih dalam area jurusan.

e) Essay

Kalau ada yang bingung, apa bedanya essay dan research proposal, anda tidak sendirian. Saya sendiri waktu dulu mendaftar bingung juga mau menulis apa di essay saya. Jumlah dan topik essay juga bervariasi di tiap universitas. Biasanya sih yang harus ditulis itu achievement kita selama 5 tahun terakhir apa, kenapa memilih sekolah yang kita tuju, apa yang ingin kita kejar di masa depan nanti, dan apa yang sekolah itu bisa bantu demi mencapai tujuan kita. Waktu itu sih ya yang seperti itu yang saya tulis. Pokoknya promosi diri sambil masih jujur dan enggak lebay. :mrgreen:

f) Dokumen lain-lainnya

Kadang-kadang universitas minta dokumen tambahan seperti sertifikat yang pernah kita punya, atau contoh artikel yang pernah kita terbitkan di media nasional, pokoknya ini tergantung tiap universitas, sih.

 2.3 Submit Aplikasi

Sebelum submit aplikasi, pastikan semua dokumen sudah lengkap. Anda tidak mau mesti repot-repot mengurus dokumen yang terlupa itu. Malahan ada beberapa universitas yang bisa dengan langsung menggugurkan pendaftar kalau ternyata ada dokumen penting yang tertinggal.

 2.4 Berdoa

Sudah berusaha sebisanya, sisanya tinggal berdo’a (bagi yang percaya). Sabar saja menunggu hasil yang terbaik!

Saran saya dalam proses registrasi ini adalah, jangan pantang menyerah dan harus punya tekad kuat. Percaya deh proses aplikasi ini enggak segampang dan sekilat yang anda kira. Butuh waktu, usaha dan biaya. Jadi kalau niatnya kurang kuat, ya hasilnya kurang maksimal (kecuali anda beruntung pas lagi iseng-iseng eh enggak taunya keterima). Terus JANGAN PERNAH MALU untuk bertanya pada pihak Admission kampus. Mereka digaji untuk mengurusi hal-hal kaya gini kok 😉

Selama proses, buka komunikasi dengan pihak kampus (kalau memungkinkan, professornya juga), ini akan sangat berguna karena kita akan mendapatkan informasi terbaru mengenai admission dan aplikasi kita. Dan komunikasi yang baik juga memudahkan kita untuk aplikasi berikutnya (kalau saat itu tidak diterima).

Sekian dari saya untuk bagian kedua, kalau mau tahu apa yang terjadi sesudah proses ini, simak bagian ke-3 nya ya!

Advertisements

2 thoughts on “Proses Saya dalam Mencari Sekolah di Jepang Bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s