Proses Saya dalam Mencari Sekolah di Jepang Bagian 3 – End

Hosh hosh, ini postingan borongan saya dalam dua hari ini. Maklum blogger lama ga nulis, sekalinya nulis langsung cepet capek. Jadi daripada bagian terakhir kelupaan karena kelamaan hiatus, saya tulis sekarang aja :mrgreen:

Oke, pada tahap ini seharusnya anda sudah menerima hasil dari aplikasi anda.

Jadi apa yang terjadi setelah ini?

3. Post-Registration Process

Kemungkinannya ada dua; anda diterima atau ditolak.

3. 1 Anda diterima πŸ˜€

Selamat! Bagian ini tentu saja menyenangkan! Tapi pada saat ini harus ada perhatikan lagi, apakah anda diterima dengan beasiswa, atau diterima bersyarat, atau benar-benar semuanya?

a) Diterima Bersyarat

Maksudnya diterima bersyarat ini pada dasarnya anda sudah diterima, tapi mungkin ada sesuatu yang pihak universitas ingin anda penuhi. Misalnya ternyata kemampuan bahasa inggris anda masih kurang di bagian tertentu karena nilai TOEFL/IELTS anda di bagian itu tidak memenuhi standar sekolah. Atau bisa jadi anda harus ikut kelas tambahan mata kuliah tertentu (matematika, statistik, dll) karena standar level sekolah yang tinggi. Biasanya kelas-kelas tambahan ini memang meminta biaya tambahan. Jangan panik, klarifikasikan soal ini kepada pihak sekolah.

b) Diterima tapi tanpa beasiswa

Ini terjadi pada saya di IUJ pada awalnya. Saya memang lolos screening test dan secara teknis saya sudah diterima. Tapi ternyata aplikasi beasiswa yang saya ajukan ditolak, alias saya tidak mendapatkan beasiswa. Akhirnya saya berkonsultasi dengan pihak Admission dan pihak sekolah menawarkan saya untuk mencoba mendaftar satu tipe beasiswa lain yang hanya memberikan potongan tuition fee sebesar 50% alias setengahnya. Kemudian untuk biaya hidup, pihak sekolah menyarankan saya mencoba daftar di JASSO. Alhamdulillah saya dapat keduanya. πŸ™‚

Jadi saran saya, jangan putus asa. Cari beasiswa dari sumber lain. Diknas misalnya. Saya memang belum pernah mencoba, tapi saya dengar Diknas menyediakan beasiswa untuk mahasiswa yang akan kuliah keluar negri dan salah satu syaratnya adalah surat penerimaan dari pihak Universitas. Ini saatnya Acceptance Letter anda berguna!

c) Lolos document screening

Ini berarti pihak sekolah punya beberapa tahapan dalam penerimaan. Biasanya sesudah ini akan ada interview dan tes tambahan. Pengalaman saya mengikuti interview untuk penerimaan sekolah adalah dengan School of Public Policy LKY. Saya diberi tahu bahwa dalam 2 minggu ke depan saya diharuskan mengikuti tes matematika dasar, tes bahasa inggris dan interview.

Tes dan interview itu sendiri diadakan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Jadi Professornya datang dan meng-interview kami langsung. Tes matematika nya sih tidak sulit, cuma 5 soal. Tapi tes bahasa inggrisnya jauh lebih sulit daripada writing test-nya IELTS! Waktu yang disediakan jauh lebih sedikit dan banyak sekali essay yang harus ditulis dan pertanyaan yang harus dijawab. Apalagi saat itu topiknya adalah Public Policy. Yang ingin dilihat adalah kemampuan menulis akademis kandidat dan penggunaan vocab serta istilah yang tepat dalam menulis. Ini benar-benar di luar dugaan saya dan bikin saya stress. Akhirnya sih selesai tapi dengan benar-benar ga pake mikir πŸ˜†

Waktu di interview, suasananya santai, hangat dan menyenangkan. Professor sendiri bilang bahwa pihak kampus memang berusaha menggaet banyak mahasiswa Indonesia, terutama yang kemampuan bahasa inggrisnya sudah bagus. Beliau bilang saya punya kelebihan di bahasa inggris ketimbang kandidat lainnya yang beliau sudah interview (beliau belum baca aja tes tulis saya yang barusan! πŸ˜† ). Lalu beliau tanya bidang apa yang saya minati, dan kenapa saya pikir School of Public Policy LKY bisa membantu saya dalam memperdalam ilmu di bidang tersebut. Dengan jujur saya menjawab pertanyaan tersebut dan menjelaskan minat saya. Lalu saya tanya, apakah minat saya ini bisa disupport oleh pihak sekolah? Ternyata beliau menjawab sejujurnya tidak. Minat saya yang memang spesifik belum ada di kurikulum sekolah dan memang School of Public Policy LKY meniliki fokus yang berbeda. Ini akhirnya bikin saya pikir-pikir juga, sih (mungkin si Professor juga mikir kali, ya). Akhirnya saya selesai interview dengan Professor yang bilang bahwa saya termasuk salah satu kandidat kuat (padahal belom liat hasil tes matematik dan inggris yang hancur lebur tuh :mrgreen: ).

Saran saya, minta konfirmasi sejelasnya mengenai status aplikasi anda. Kalau diterima bersyarat, apa sebabnya, dan proses apa yang harus dilakukan berikutnya. Jangan keburu menyerah!

Lalu saat interview, sebaiknya jawab pertanyaan sejujurnya. Itu menghindarkan anda dari masalah yang ke depannya mungkin dihadapi. Misalnya kalau saya tidak jujur soal minat saya, mungkin saya akan stuck di sekolah dengan bidang yang sama sekali saya enggak suka dan akhirnya malah kacau balau.

3.2 Anda Ditolak 😦

Ini pasti bikin sedih. Wajar, kok. Kita sudah capek-capek keluar tenaga, waktu dan biaya, eh ternyata gagal. Saya sendiri sempat depresi kecil waktu menerima penolakan pertama dari Erasmus Mundus MAPP. Bayangkan, saya bahkan tidak lolos screening pertama! πŸ˜†

Lalu penolakan berikutnya datang dari School of Public Policy LKY. Memang Beberapa minggu setelah interview, Β saya menerima hasil akhir bahwa saya tidak diterima. Ini mungkin karena saya memilih opsi “Do not accept me if I did not get the scholarship” di formulir pendaftaran, atau mungkin juga karena nilai tes matematik dan inggris saya yang kacau (yakin deh kalo ini!), atau bisa jadi karena Professornya mikir minat saya toh tidak sejalan dengan kurikulum sekolah. Sampai sekarang saya enggak tahu yang mana yang bikin saya ditolak. Saya sih mengganggap ini bukan rejeki saya. Saya ambil saja hikmahnya sebagai pengalaman pernah ikut interview, jadi tau proses pendaftaran, dan jadi bisa sharing disini (halah). Toh, alhamdulillah saya diberi gantinya di tempat lain πŸ™‚

Ini sekolah saya sekarang, and I am very grateful to be here! πŸ˜€

Saran saya kalau anda ditolak, jangan patah semangat. Masih banyak jalan menuju Roma, masih banyak Universitas lain yang membuka pendaftaran dan menawarkan beasiswa. Malahan salah satu teman saya yang sekarang bekerja di AMINEF, beliau adalah lulusan Community College di US. Beliau bercerita bahwa dulu beliau ditolak berkali-kali tidak terhingga dan terus mencoba sampai TIGA Β TAHUN! Akhirnya perjuangan beliau tidak sia-sia karena beliau akhirnya mendapatkan beasiswa dari AMINEF. Yang dapatnya pake berdarah-darah itu memang hasilnya lebih nikmat, sodara-sodara! πŸ˜€

Jadi itulah akhir dari sharing pengalaman saya. Semoga bermanfaat dan bisa diambil untuk referensi anda.

Good luck and thanks for reading!

2 thoughts on “Proses Saya dalam Mencari Sekolah di Jepang Bagian 3 – End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s