Magang di Jepang

Hal-hal yang saya temukan selama saya magang di Tokyo, Jepang:

1. Otsukaresama Desu!

Pertama kali denger kalimat sapaan ini dari dorama dan anime-anime yang saya tonton sebelum ke Jepang. Biasanya diucapkan setiap mau pulang kerja. Tapi ternyata saya kecele juga waktu beneran ngerasain kerja di Tokyo karena “otsukaresama desu” tidak seperti di dalam bayangan saya.

Dua hari pertama saya bingung bukan main, kenapa setiap saya berpas-pasan ketemu orang di toilet, di hallway, di lift, semua orang tiba-tiba bilang “otsukaresama desu” sambil mengangguk? Memangnya sudah jam pulang, ya? Atau saya udah disuruh pulang?

Tadinya saya pikir saya diusir alias disuruh pulang karena kerjaan saya sudah selesai (huu maunya), tapi pas saya lihat ternyata semua karyawan begitu terhadap sesamanya. Saya tanya pacar saya yang udah lumayan lama kerja di Jepang, dia bilang di perusahaan dia enggak common untuk mengucapkan otsukaresama desu tiap saat kaya gitu. Akhirnya saya tanya sama supervisor saya. Beliau menjelaskan bahwa ucapan “otsukaresama desu” itu berfungsi seperti greeting biasa seperti selamat siang atau selamat sore untuk diucapkan tiap bertemu dengan karyawan lain yang jaraknya jauh/lama ga ketemu pada hari itu. Sedangkan kalo dengan karyawan lain yang duduk di sekitar kita enggak perlu mengucapkan itu kecuali saat mau pulang, misalnya.

Nah, dia juga menjelaskan kalau mau pulang lebih enak mengucapkan “O saki ni shitsureishimasu” ketimbang otsukaresama desu. Maksudnya kita bilang mau pulang duluan. Biasanya sih nanti dibalesnya “otsukaresama desu”. Itu sih menurut pengalaman saya disini. Tentu saja tiap kantor punya working culture yang berbeda-beda.

2. Sikat gigi di toilet tiap selesai jam makan siang.

Ini salah satu kebiasaan orang Jepang yang rada ngagetin buat saya. Tiap selesai jam makan siang, wastafel di toilet biasanya ditongkrongi beberapa karyawati yang sibuk sikat gigi. Kebiasaan ini kayanya dimulai dari sejak kecil, soalnya waktu saya kunjungan ke sebuah SD di deket kampus, tiap abis jam makan siang pasti ada sesi sikat gigi bersama yang dibimbing oleh gurunya.

Orang Jepang sehat-sehat amat ya!

3. When did you touch up your make up?

Ini adalah keheranan pribadi saya sama cewek-cewek Jepang yang make upnya tidak pernah terlihat berubah dari sejak pagi sampai mau pulang. Pasalnya saya nyaris enggak pernah liat cewek-cewek itu retouch make up mereka di toilet. Sikat gigi sih iya, tapi retouch make up? Enggak pernah!

Kalau di kantor-kantor di Jakarta, saya sering liat mbak-mbak kantoran retouch make up di toilet atau di musholla. Kalo di Jepang, kapan ya mereka retouch? Apa kualitas make upnya bagus banget sampe enggak luntur dan berubah gitu, ya?

4. Bento dan Teishoku

Makan siang itu biasanya saya beli bento (lunch box) yang banyak dijual di daerah perkantoran. Harganya bervariasi, tapi relatif lebih murah daripada makan di restoran (sekitar 500 – 600 yen). Nah kalo saya lagi diajak makan bareng diluar (bikin kere! T__T), kebanyakan di tiap restoran pasti menyediakan teishoku alias meal set. Jadi biasanya dengan 1,000 yen, saya dapat makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup dan minum. Menu paket ini sebetulnya sih jatuhnya lebih murah daripada ala carte. Gatau kenapa pesan makanan model ala carte enggak populer di Jepang.

5. A park next to my building!

Yep! Ini yang paling bikin saya terkagum-kagum sama landscape nya Tokyo. Segitunya banyak gedung bertingkat, tapi enggak lupa sama hijau-hijauan. Saya magang di dua kantor yang lokasinya berjauhan di Tokyo. Dan di kedua kantor tersebut, tiap saya melongok ke luar jendela, saya bisa melihat hijau-hijauan alias pohon besar diantara gedung-gedung Tokyo. Ada taman yang cukup luas dan menyenangkan di sela-sela kesibukan Tokyo dan hal inilah yang bikin saya iri setengah mati. Bahkan beberapa teman saya mengajak saya untuk jogging bareng sehabis jam kantor selesai. Dan ini hal yang sangat lumrah di Tokyo. Sore hari adalah jam jogging atau jalan-jalan sore bersama anak atau hewan peliharaan. Look, your life is balance this way, right?

6. After 5pm. Nomikai?

Saya sendiri belum pernah ikut atau diajak ke acara nomikai alias minum-minum selepas kerja. Pacar saya sih bilang dia beberapa kali ikut. Ini adalah tempat kita bersosialisasi sama orang-orang kantor. Tapi lucunya, saat nomikai itu kita harus ikut patungan dengan sistem bayar patungan. Jadi sekalipun kita cuma minum jus jeruk, kita harus bayar sama banyaknya dengan yang minum sake berbotol-botol. Tentu saja ini enak di dia enggak enak di kita XD

Kebetulan waktu saya magang, saya diajak ke acara networking party yang namanya “after 7” alias setelah jam 7 malam. Acara ini bukan acara internal kantor, sih. Malahan kantor diundang sebagai VIP guest. Acara itu sendiri sih bertujuan untuk membangun network demi bisnis ke depannya. Untuk hadir biayanya adalah 4,000 yen per kepala. Karena saya anak magang, akhirnya saya digratiskan XD. Karena saya penasaran sama Roppongi (acaranya di Roppongi), akhirnya saya setuju ikut. Udah deg-degan karena saya pikir acaranya bakalan formal dan banyak orang penting yang hadir (biasanya ada presentasi perusahaan juga). Eh enggak taunya acaranya di Bar kecil dengan lampu kelap kelip dan musik super kenceng! Persis kayak lagi clubbing tapi bedanya kita tukeran kartu nama! Yang lebih gila lagi, pas jam 10 malam, ada pole dancing! πŸ˜†

Saya sendiri rada syok (juga temen kantor saya!), dan memutuskan untuk pulang setelah tiga puluh menit berdiri dan makan tiga potong pizza vegan. Ya lumayanlah pizza gratis πŸ˜›

Besokannya saya dikasih tau bahwa acara tersebut enggak biasa di budaya Jepang dan karena sponsor utamanya adalah Chamber of Commerce US, jadi EO nya mau mengikuti networking party dengan western style, sekalian untuk menarik perhatian para profesional muda untuk hadir. With pole dancing? I bet they will! πŸ˜†

7. Otaku? Yikes!

Setiap orang yang ngajak saya makan siang pasti punya pertanyaan yang sama: kenapa saya memilih kuliah di Jepang.

Buat saya pertanyaan itu rada aneh, soalnya ini Jepang gitu loh, negara dengan teknologi maju dan empat musim. Siapa sih yang enggak mau ke Jepang? Lain kalo saya kuliah di negara Ghana, misalnya. Itu kan baru jadi pertanyaan, kenapa Ghana? (tiada maksud mendiskreditkan Ghana, tapi kan butuh alasan khusus kenapa milih Ghana, ya nggak sih?). Anyway, karena saya bingung jawab, akhirnya saya bilang kalau saya udah tertarik sama Jepang dari kecil sejak saya ngikutin anime, manga dan dorama Jepang. Yang ada ujungnya saya ngaku kalo saya itu ex-otaku. Trus respon mereka pasti kalo enggak mengernyit (kaya rada aneh gitu), ketawa, atau ada yang malah geleng-geleng heran.

Ternyata jadi otaku sama sekali bukan hal yang membanggakan disini. Beberapa ada yang ikutan semangat cerita soal kesukaannya terhadap anime, tapi beberapa malah menyayangkan kenapa anime dan manga segitu terkenalnya sampe merepresentasikan Jepang. Salah satu temen saya malah dengan lantang bilang kalo “matcha, samurai, temple, ikebana” harusnya adalah hal-hal yang bikin orang kenal Jepang, dan bukannya AKB48 atau anime! Woalah πŸ˜†

Jadi apa saya bakal kapok bilang saya mantan otaku? Otentutidak, soalnya itu jawaban paling gampang yang bisa saya temukan sih..hehe

8. The power of lebay

Orang Jepang itu lebay dalam mengekspresikan sesuatu! Misalnya, kalau kita mau minta tolong sesuatu sama seseorang, kita harus bilang “onegaishimasu”Β berkali-kali dengan anggukan yang kelihatan tulus. Atau waktu kita mendapatkan bantuan dari seseorang, kita harus bilang terima kasih berkali-kali pula. Pokoknya sekali itu enggak cukup deh kayanya. Apalagi kalau bikin kesalahan, kudu minta maaf berkali-kali dan terlihat sangaaaaatttt menyesal! Lebay banget deh!

Mungkin ini karena orang Jepang sangat menghargai makna orang lain. Maksudnya mereka sebisa mungkin enggak mau menyusahkan atau merepotkan orang lain, jadi kalau sampe itu terjadi, mereka menghargai betul orang lain yang terlibat. Walaupun memang tugas mereka untuk terlibat, tapi tetep aja begitu.

Ini sebabnya saya keikutan jadi lebay (walau dasarnya saya emang udah lebay), setiap saya minta tolong sesuatu saya bakal bilang “onegaishimasu”Β berkali-kali dan untuk hal kecil sekalipun seperti dikasih tau sesuatu, saya akan bilang makasih berkali-kali pula. Pokoknya sampe si orangnya ngerasa bahwa saya berterima kasih banget atas bantuan dia.

Tapi lama-lama saya jadi kepikiran, kalau kayak gitu, bisa ga ya kita ngebedain ucapan yang tulus dan yang cuma sekedar ngikutin budaya? Enggak tau juga, sih. Yang jelas rasanya memang lebih menyenangkan menerima ucapan lebay karena rasanya lebih dihargai ketimbang ucapan “makasih” sekenanya dan sambil lalu.

Sekian beberapa hal yang saya temukan selama saya magang disini. Kalo ada salah-salah, silahkan dikoreksi! πŸ˜€

7 thoughts on “Magang di Jepang

  1. terimakasih sebelumnya atas tulisannya, sehingga menambah pengetahuan dan informasi bagi kita yang membacanya, semoga bermanfaat untuk kita semua, jika minat silahkan singgah ke blog saya untuk saling silaturahmi. terimakasih

  2. Assalamu’alaikum. Saya Kameko aka Fitri, baru lulus tahun ini. Berulang kali saya cari info tentang magang di jepang, tapi saya masih bingung mau bergerak kemana dulu. Dan akhirnya, saya nemuin website ini. bolehkah saya bertanya-tanya di sini?

    Atau, boleh minta nomer Mbak? saya ingin sekali pergi ke jepang. saya suka cerita Mbak..ini email saya Mbak kzkeinze@gmail.com

  3. Wah, seru juga pengalaman magangnya !

    Jadi inget Tempat Magang Di Jogja dulu sewaktu belajar tentang dunia internet marketing.
    Nggak kalah seru lah, meski gak punya basic IT tapi tetap dibimbing 3 bulan sampai bisa menghasilkan di dunia internet marketing.

    Salam kenal dan semoga sukses selalu πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s