Cooking with A Friend

Saya suka sekali baking kue. Kesukaan saya itu juga baru saya temukan akhir-akhir ini saja, sih. Terutama ketika hari-hari suram dan mood saya sedang super buruk dan biasanya orang sekitar saya kena getahnya  saya bakal lari ke dapur, mengaduk tepung dan apapun yang bisa saya temukan di rak, lalu voila, terciptalah pai apel hangat, atau kue buah. Ya, saya belum jago banget dalam baking atau menghasilkan banyak kue, sih. Tapi ternyata saya betul-betul menyukai masa-masa dimana saya menghabiskan waktu mengocok telur dan krim sampai mengembang, atau ketika berharap-harap cemas menunggui kue dipanggang, bahkan ketika saya membagi-bagikan kue hasil buatan saya ke orang-orang yang saya temui di dapur. Rasanya sungguh menyenangkan!

Jadi ketika saya melihat seorang teman saya di facebook mengunggah foto hasil panggangannya, sebuah roti labu kismis yang sangat menggugah selera, saya sangat sangat excited! Saya pernah memanggang kue, tapi belum pernah mencoba membuat roti. Langsung saja saya tanya resepnya pada teman saya sekalian saya bilang kalau saya suka sekali baking. Teman saya bukan hanya memberikan resep rotinya, tapi juga mengajak saya ikutan kelas memasak yang dia biasa ikuti, dan karena itu pertemuan pertama, saya bisa ikutan secara GRATIS!

Gyaaaaaaa! Saya literally menjerit kegirangan! Dengan segera saya mengiyakan dan teman saya pun berjanji akan membuat temu janji dengan pihak cooking studio. Saya diminta memilih hari dan menu yang ingin kami masak pada hari itu. Akhirnya diputuskan kami akan memasak Risotto dan Roti Jagung pada hari Senin 24 September.

Ternyata sekolah memasak yang diikuti teman saya itu punya banyak cooking studio di Jepang. Sayangnya di prefektur Niigata cuma ada satu, itupun jauh sekali dari kampus saya. Teman saya itu, namanya Yuka-san, memilih cooking studio di Shibuya untuk mempermudah saya karena saya sedang tinggal di Shibuya sampai akhir minggu ini, padahal rumah Yuka-san sendiri sejam dari Shibuya. Yuka-san baik sekali ya! 😀

Waktu sampai di cooking studio, saya cukup terkagum-kagum karena ruangannya cukup besar dan peralatannya lengkap. Banyak sekali oven gas di tengah ruangan. Lalu ada juga beberapa perempuan lain yang tampaknya juga anggota sekolah memasak. Waktu datang kita dipinjami apron hijau, walaupun kebanyakan dari anggota sekolah masak sudah membawa apron mereka masing-masing. Lalu Yuka-san juga tanya apa saya membawa sapu tangan atau serbet. Saya bilang saya tidak bawa karena tidak tahu. Yuka-san minta maaf karena lupa bilang, ternyata kita juga disarankan membawa serbet sendiri yang nantinya berguna untuk melap tangan setelah mencuci piring atau tangan. Oya, bahasa inggris Yuka-san belum terlalu lancar dan bahasa Jepang saya pun masih betul-betul dasar, sehingga selama ngobrol dengan Yuka-san, berkali-kali saya harus mengulang pertanyaan dan butuh beberapa lama untuk Yuka-san memahami pertanyaan saya, begitupun sebaliknya saya mencoba memahami maksud pertanyaan Yuka-san. Tapi yang namanya komunikasi, kalau ada niat pasti jalan terus, kok. Dengan susah payah, kami bisa juga ngobrol asik selama sesi memasak 🙂

Setelah memakai apron, kami siap untuk memasak. Kami dikenalkan dengan seorang perempuan cantik yang ternyata akan menjadi instruktur memasak kami. Kami memanggil instrukturnya dengan ‘Sensei’, eh ternyata bahasa inggris sensei lebih parah dari Yuka-san! 😆 . Setelah digiring ke meja masak, Sensei memulai pelajaran membuat roti dan risotto. Ternyata membuat roti itu jauh lebih simpel daripada membuat kue. Saya masih takut-takut dalam menggiles adonan roti, akhirnya dibantu oleh Yuka-san yang sudah lebih mahir dan luwes. Sugoii, dalam dua menit saja adonannya sudah cantik! Sasuga!

With Sensei and Yuka-san

Membuat risotto sendiri ternyata tidaklah sulit dan bahan-bahannya pun mudah. Sebetulnya risotto yang akan kami buat akan menggunakan bacon, tetapi karena Yuka-san tau saya tidak makan babi, Yuka-san meminta kepada sensei agar tidak perlu memakai bacon untuk risottonya. Ternyata Yuka-san pun punya alergi terhadap daging dan hanya makan ikan saja. Syukurlah, tadinya saya enggak enak kalau nanti makanannya jadi kurang enak gara-gara enggak pakai bacon.

Anyway, risotto juga menggunakan sedikit wine putih untuk menambahkan harum. Saat itu saya juga tanya apa wine putih ini bisa diganti dengan yang lain. Sensei bilang bisa saja diganti dengan Sake Jepang. Eaa sama aja dong kalo gitu, sama-sama alkoholnya 😆

Saya menjelaskan alasan saya bertanya karena di Indonesia agak sulit mencari wine ataupun sake, kalaupun ada pastilah mahal sekali. Itu karena minum alkohol di Indonesia tidak sepopuler di Jepang yang dimana-mana mudah menjumpai kedai sake atau alkohol. Mereka berdua kaget, terutama saat saya bilang kalau saya enggak pernah minum alkohol. Yuka-san langsung bilang “kamu tinggal di Shibuya dan enggak pernah minum alkohol?” sambil terkagum-kagum.

Saat mencuci piring (kita diwajibkan mencuci sendiri peralatan memasak yang sudah digunakan), kami terlibat di sebuah percakapan:

Y (Yuka-san) : Terus aneh enggak buat orang Indonesia melihat banyak kedai sake di Jepang? Apalagi yang nomikai kalau malam hari?

S (saya) : Ya begitu, deh. Tapi saya biasa aja kok.

Y : Lalu orang Indonesia kalau mau refreshing ngapain, dong? Kan mereka enggak minum?

S : refreshing….ngapain ya…*mikir lama* nggg….(iya ya, orang Indonesia kalo lagi stress ngapain sih refreshingnya?)

Y : Saya enggak kebayang deh, kalau saya pasti udah stress bertumpuk banget tuh! Ga bakalan kuat!

Saya sih cuma bales cengengesan aja waktu itu. Sambil mikir dalam hati, iya ya, kita kalo lagi stress kerjaan numpuk atau mau refreshing ngapain ya?

Habis mencuci piring, kami melanjutkan masak-masak stase terakhir alias memanggang roti. Saat inilah kita dikasih break sepuluh menit dan di depan studio sudah disediakan meja berisi teh dingin dan hangat. Karena hawa Tokyo saat itu dingin menusuk, saya memilih teh hangat chamomile yang wanginya enak sekali. Sembari kembali ke meja masak kami, Yuka-san melihat masakan meja sebelah yang diisi seorang gadis sebaya saya yang sibuk membentuk cake stroberinya. Saya jadi ikutan tertarik. Tapi ternyata si mbaknya judes banget. Kayanya enggak seneng kalo diganggu. Baru kali itu saya melihat mbak-mbak judes di jepang, kirain semua orangnya ramah #naif.

Akhirnya masakan kami jadi! Roti keluar dari panggangan dan hasilnya sempurna! Risotto juga terlihat menggiurkan!

Risotto and Corn Bread

gyaaaaaaaaaa! My very first bread! Made by my own hand! Gyaaaaaaa!!

Rasanya pun uenaaaaaaaaaaaaakkkk!!! Saya jadi pingin bikin lagi yang lainnya! Sayangnya saat proses membuat roti ini ada yang namanya proses pengembangan dan adonan sebaiknya disimpan di tempat hangat bertemperatur 41 derajat celcius. Di studio ini mereka punya alatnya, tapi kalo di rumah saya pake apa dong? 😦

Gapapalah, mungkin kapan-kapan saya bikin sendiri pas lagi iseng. Yang jelas saya senang banget bisa ikutan kelas memasak bareng Yuka-san dan Sensei. Seru dan lumayan bisa dapet makan malam gratis! hehehehe

5 thoughts on “Cooking with A Friend

  1. Aku sebetulnya kurang suka Risotto dan masakan Italia karena kurang berasa XD
    tapi yang aku takjub adalah rotinya, kok bisa ya aku bikin roti, sampe kaget2 sendiri pas jadi..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s