Procrastination Projects

It is my customary that when I procrastinate, I feel like doing things worthwhile, sometimes it can be as simple as doing other assignments, or it could be as complex as planning the future. Like find a perfect future cat, or planning a future wedding.

Finding a cat was my procrastination project in 2009 when I did my last year in my undergrad. Planning a future wedding is my project NOW.

I don’t know how it started, but if you check my google history, you’d find “wedding venue” or “wedding dress” on the list. You see, I inherited my father’s genes in term of obsessing with anything that inflict my interest, we got a huge urge to do it right away once our eyes set on something. To give you how serious that could be, you should ask how many business projects my father ever started? Hundreds. How many hobbies he ever had his hands on? Countless. The problem with this is, he has the tendency to stop once he got bored. We used to sell Bandeng Tanpa Duri and it is actually sold well, until my dad gets bored and suddenly stop everything. He was the one who got all excited at the beginning though *sigh*

Anyway, knowing such thing runs in my blood, I carefully tried not to be too impulsive in making huge decision, like owning a cat. It took me more than a year till I am ready to have one. I no longer have a cat, however, not because I got bored of my cat, mind you, rather because no one in my family is willing to take care of my cat while I am here studying *sobs*

Before I got my cat, I could spend countless time to just browse cat pictures and pet forums. And now it is happening all over again, with another obsession: wedding.

I even already found a perfect venue and catering for my wedding future 😆

As for the gown and make up…well, I keep looking the cheap and yet elegant ones. (what keep looking, ar? you want to waste your time again browsing around some wedding gowns instead of doing your thesis, Grace? Aiyooo…)

Well, I hope this is kind of me praying for a wedding ceremony soon and just like cat project, it will eventually come true, soon! *finger crossed* :mrgreen:

Advertisements

Tapi Buka Dulu Matamu

Ini postingan ditulis pas saya lagi ngerjain tesis, I mean, beneran di tengah-tengah lagi ngerjain tesis dan tiba-tiba ngerasa kudu banget prokrastinasi. Jadi mohon maklum kalo isinya mblawur.

Jadi gini, berbaur dan tinggal bersama orang asing dari segala penjuru dunia (lebay dikit), sudah bukan hal yang baru lagi buat saya. Sebelum saya lulus SMA, bapak saya udah “maksa” saya untuk kuliah di Malaysia. Alasannya simpel, biar wawasan saya terbuka. Saya bersyukur banget punya bapak yang pola pikirnya seperti bapak saya itu, itu adalah batu pijakan pertama saya dan paksaan terbaik yang pernah saya ikuti.

Kenapa?

Karena bapak saya 100% betul! Saya tau mungkin melebarkan wawasan itu alasan klise banget untuk sekolah di luar negri, memang kok bisa punya banyak wawasan dari internet. Tapi untuk orang yang senang dengan zona nyaman dan jiwa penasarannya kurang tinggi, kalau saya ga “ditendang” oleh bapak saya, mungkin saya ga akan bisa menulis tulisan ini.

Anyway, waktu saya S1, kampus saya itu kampus Islam Internasional. Dari segi keberagaman secara bangsa memang sudah cukup luas, tapi dari segi keberagaman keagamaan sangat sangat belum. Apalagi saya yang dibesarkan dan disekolahkan di sekolah islam selama hidup saya. Jujur saja, saya tidak banyak tahu soal agama lain kecuali hal-hal dasarnya saja.

…sampai saya kuliah di Jepang dan berinteraksi secara langsung dengan banyak penganut agama lain. Mungkin bagi sebagian kalian, ini bukan hal yang luar biasa, tapi buat saya ini adalah pengalaman menarik. Adalah ketika saya menyadari bahwa orang-orang yang tidak minum alkohol dan tidak seks bebas bukan hanya kutukan hak privilege penganut agama islam saja. Sumpah saya sendiri heran, kok bisa sempat tertanam di otak saya dan mungkin banyak lagi muslim lainnya kalau tidak minum, tidak seks bebas dan tidak makan babi itu cuma muslim saja. Untuk orang yang mengaku banyak terkena eksposure dunia luar, saya sungguh malu!

Malahan sudah biasa kalau saya melihat orang beragama islam yang minum alkohol, seks bebas atau makan babi. Sudah tidak kaget saya. Lha ndilalah saya malah kaget pas tau ternyata, kawan saya dari Myanmar dan penganut agama buddha sampai usianya yang ke 30 sama sekali tidak pernah minum alkohol, dan tidak pernah pacaran. Padahal dia cantik, lho. Ternyata juga, kawan saya dari India penganut agama hindu yang juga demikian (soalnya simbaknya strict vegetarian), ada juga yang bukan vegetarian tapi juga memilih untuk tidak seks bebas ataupun minum alkohol. Bah, ngaku udah kuliah di kampus internasional, tapi beginian aja kaget. Sungguh memalukan, sodara!

Tapi bener deh, ini bikin saya mikir. Ga sedikit lho orang islam yang merasa agama mereka itu yang paling “suci” karena mengharamkan itu semua. Karena babi itu jorok, karena seks bebas itu “kotor”, karena minum alkohol itu bikin hilang kewarasan dan karena lain-lainnya seolah semua itu hak privilege umat muslim untuk jadi suci.

Jadi moral of the story-nya, mata harus dibuka lebar-lebar, terus menerus, karena dunia itu luas. Bener-bener luas.

Dan prokrastinasi itu boleh asal melakukan hal lain yang bermanfaat.

*balik nesis*

This Close

I was this close in telling you how much I miss you too

I was this close in telling you how I wanted to say “I love you too”

I was this close in telling you how much I tried to keep myself busy all day

Just like

I was that close in forgetting that I actually have you

I was that close in saying goodbye to you

I was that close to not care

Yes, it was close.