Furusato

Furusato alias kampung halaman.

Saya sendiri ga tahu dimana kampung halaman saya, wong definisinya sendiri buat saya mblawur. Menurut KBBI, Kampung Halaman artinya daerah atau desa tempat dilahirkan.

Saya dilahirkan di sebuah rumah sakit di Brebes, seminggu setelahnya saya diboyong orang tua saya ke Jakarta dan karenanya saya dibuatkan akta lahir di Jakarta. Setahun setelahnya kami sekeluarga pindah ke Palembang, beberapa tahun kemudian pindah ke Jakarta lagi, lalu Bekasi dimana saya menghabiskan 10 tahun tinggal di rumah orang tua saya sekarang. Tahun 1999 kami sekeluarga tinggal di Jogjakarta selama setahun, dimana keluarga saya kembali ke Bekasi setelahnya sementara saya melanjutkan tinggal di Solo selama 3 tahun.

Jadi, yang mana kampung halaman saya? Kalau mengacu pada KBBI, mungkin Brebes. Atau kalau mau berdalih menggunakan definisi kampung halaman sebagai daerah tempat kita dibesarkan selama masa kanak-kanak, mungkin Bekasi jawabannya.

Tapi entah kenapa, saya ndak pernah merasa ada ikatan perasaan dengan kota Bekasi. Malah, hari ini saya merasa kangen sekali dengan kota Jogjakarta.

Salah ndak ya kalau saya menganggap Jogjakarta sebagai kampung halaman saya? Soalnya walaupun saya cuma tinggal selama setahun disana, satu tahun itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam untuk saya. Dan selalu ada rasa rindu pada Jogjakarta terselip di sudut hati saya.

Jadi waktu bulan madu dadakan tiga bulan lalu saya dikasih kesempatan untuk sowan ke Jogja walau cuma mampir di Malioboro, saya senang bukan main. Apalagi paginya dalam perjalanan menuju bandara, supirnya berbaik hati nganter saya dan suami lewat SD saya dulu di Jalan Kapas. Seneeeng banget!

Banyak yang berubah dari Jogja, terutama sejak gempa tahun 2006 ya, banyak gedung yang rusak dan kemudian dibangun kembali. Tapi banyak juga yang belum berubah, jalannya masih sempit, motornya masih banyak (kayanya dibandingkan 13 tahun lalu ya makin banyak), sekarang ada transjogja, kalau siang puanas banget (kayanya 13 tahun lalu ga segitunya), walaupun saya belom puas muterin jogja dan nostalgia, setidaknya ada hal-hal dari 13 tahun lalu yang masih bisa saya temukan di jalan. Dan itu bikin hati terasa hangat.

Sampai-sampai pernah terpikir oleh saya, kalau nanti saya pulang dan tinggal di Indonesia, mungkin saya milih tinggal di Jogja saja. Tentu banyak hal sudah dan akan berubah, tapi saya ga pernah punya ikatan emosional sekuat saya punya dengan Jogja. It`s just not the place that you can leave and forget.

Tempat tinggal saya tiga tahun terakhir ini daerah yang bisa dibilang kampung, terutama waktu tinggal di Urasa, kanan kiri isinya gunung dan sawah. Mungkin kalau dibayangkan, furusato harusnya yang kayak begini. Tapi kalau kaya saya yang masa kecilnya dihabiskan di daerah perkotaan, perasaan tentang kampung halaman mau ga mau ya penuh dengan hiruk pikuk kota. Mungkin itu sebabnya secara tidak sadar saya memilih Jogjakarta sebagai kampung halaman saya, setidaknya Jogjakarta 13 tahun lalu (juga daerah tempat saya tinggal dulu di Jogja), masih relatif lebih `kampung` ketimbang kota Bekasi. Setidaknya walaupun waktu itu udah kenal mol malioboro, saya masih menikmati juga main di ladang kacang sambil berburu ciplukan dan burung emprit.

Saya ga bisa membayangkan apa rasanya jadi anak yang lahir dan besar di kota, kalau ditanya soal kampung halaman, kira-kira akan menjawab apa, ya? Mungkin seperti adik perempuan saya yang tidak pernah pindah dari Bekasi, kalau ditanya soal kampung halaman yang ada dalam pikirannya mungkin kampung tempat nenek-kakek saya. Memori yang tersimpan ya paling ketika lebaran dan kumpul keluarga saja. Sedih juga.

Jadi terpikir juga sih, kalau punya anak nanti, apa lebih baik saya masih tinggal di Kariya atau daerah suburb di Jepang ya, setidaknya sampai si anak bisa mengingat memori masa kecilnya. Setidaknya anak saya nanti ga mesti kebingungan kalau ditanya soal kampung halaman-nya, toh Kariya masih lebih kampung daripada Jakarta.

Yah, hidup di usia 20`s -50`s mungkin memang lebih enak di kota besar, tapi masa kecil dan masa tua kayanya lebih nyaman di pedesaan, ya. Masa kecil untuk kenangan, masa tua untuk ketenangan.

One thought on “Furusato

  1. Waktu liat post ini di FB kemarin kukira Princez kepingin ikutan kopdar Blogger Nusantara 2013 di Jogja wiken ini.. :mrgreen:

    Kurasa tak mengapa kok kalo kampung halaman anakmu adalah metro Tokyo. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s