Musim Gugur

Musim gugur adalah musim yang penuh melankoli dan suram. Kalau bukan karena musim dingin tanpa salju, mungkin musim gugur sudah menjadi musim terakhir kesukaan saya, bersaing ketat dengan musim panas.
Lain hal dengan suami saya yang memandang kesuraman musim gugur sebagai wadah untuk kontemplasi, buat saya pemandangan daun memerah dan jatuh itu menyedihkan. Belum lagi cuaca yang juga mulai mendingin. Mungkin saya hanya belum dapat mencerna bagaimana suasana ini dianggap cantik oleh banyak orang. Mungkin saya sudah tidak se-oblivious anak kecil yang masih bisa dengan riangnya tertawa dan bermain, atau mungkin saya belum cukup dewasa untuk mengambil hikmah dari musim-mendekati-kematian, sebutan suami saya atas musim gugur. Yang jelas buat saya musim gugur itu auranya sedih, pohon-pohon botak, rumput pun kering menguning, semuanya tampak senada tak berwarna.
Seperti mau mati.

Tapi kadang saya pingin jadi sok bijaksana dan sok bisa ambil hikmah dari alam.
Misalnya, saya mencoba percaya bahwa musim gugur memang musim-mendekati-kematian, tapi bukan berarti kita berhenti, menyerah dan mati begitu saja. Pada musim gugur, kita mempersiapkan diri untuk kemudian terus hidup melewati kemungkinan terburuk. Kenapa mempersiapkan diri? Karna kita percaya bahwa musim dingin pasti lewat, dan musim gugur pasti datang.
This too shall pass, right?

Ah, ngomong apa saya ini. Ini sih curhat namanya.

Advertisements

Takaramono

What is your biggest treasure?
Mine is definitely people I am surrounded with. I am very blessed to have such a wonderful, kind and gentle-hearted people who always there during my peak and my fall.
It’s like, everytime I am about to complain about life and then I remember them, I feel like I am more blessed than damned.
I have angels by my side, and they are my treasure. Irreplaceable.
I am lucky, alhamdulillah.