Tentang Menjadi Kuat

Pada malam setelah saya melahirkan Reika, seorang suster menghampiri saya dengan dua bungkus tisu basah di tangannya. 

“Kamu harus buang air kecil dan buang air besar ya. Buang air besar tidak harus hari ini, tapi buang air kecil harus sesegera mungkin. Fungsinya untuk membuang virus yang ada di tubuh kamu. Nah sekarang saya tunggui kamu di depan toilet, tidak saya kunci pintunya. Kalau ada apa-apa yang urgent, berteriaklah.” begitu katanya.

Saya hanya mengiyakan. Sebelumnya saya ngobrol dengan teman saya yang juga baru melahirkan. “Pipis dan pun setelah melahirkan itu sakit!!!”. Mengingat saya punya cukup banyak jahitan “di bawah sana”, ngebayanginnya pun ngeri. Apalagi ada kasus yang katanya jahitan kebuka segala.  

Gara-gara itu saya jadi ketakutan sendiri. Makanya ketika suster mengetuk pintu toilet karena saya kelamaan, saya buru2 keluar toilet sambil menggelengkan kepala. 

“Maaf suster, karena terlalu takut dan khawatir, ga bisa keluar”

Suster maklum. Lalu saya disuruh kembali ke kamar saya. 

Tengah malam ketika saya baru saja tidur-tidur ayam, suster yang sama membangunkan saya, bertanya apa saya sudah buang air kecil. Saya menggelengkan kepala. 

Lalu suster segera menyiapkan beberapa peralatan yang dibawanya. Kateter. 

Ini gawat, batin saya, katanya ini lebih sakit lagi. Saya pun panik. Saya bilang saya akan pipis besok pagi. Suster bilang harus segera dikeluarkan sekarang. 

Akhirnya saya mengiyakan. Tapi ketika suster akan memasang kateter, saya refleks menolak ketakutan. Iya, saya emang paranoid soal pemeriksaan fisik seperti ini. Sepertinya dokter dan suster di RS itu sudah hafal dengan kecupuan saya ini. 

“Sebentar suster! Beri saya waktu menarik nafas”

Suster diam sebentar, kemudian akan memasang lagi. Saya menjerit menolak lagi. 

“Tunggu suster, saya takut!”

Setelah berapa lama saya selalu kekeuh menolak, mungkin suster akhirnya habis sabar. 

“Ini saya harus pasang, lho!”

“Ya saya tahu, tapi saya takut karena ini baru pertama kali, !”

“Saya tahu kamu takut. Tapi kamu sudah jadi seorang ibu sekarang, mulai saat ini akan ada banyak hal yang kamu harus lakukan untuk pertama kalinya. Kamu harus menjadi kuat, untuk anakmu juga”

Mendengar itu saya jadi malu. Lalu dengan menahan nafas, kateter pun dipasang. Sakit? Enggak! Setidaknya tidak sesakit bayangan saya. 

Percakapan saya dengan suster malam itu benar-benar membekas sampai sekarang. Suster itu benar, melahirkan hanyalah awal dari semuanya. Dalam dua bulan menjadi ibu saja, saya sudah harus berhadapan dengan banyak sekali hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya: kurang tidur adalah hal yang sangat lumrah, kecapekan, kemudian saya merasakan mastitis alias radang payudara yang sakitnya luar biasa, puting sakit tiap menyusui, baby blues menangis mendadak tanpa sebab ketika sendirian, sempat denial kalau yang menangis itu bayi saya, belum lagi saya kena sembelit yang saya curigai adalah anal fissure, ini sakitnya melebihi dari melahirkan! 

Dan ini baru awalnya saja. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana para ibu-ibu lain melewati ini semua. Tapi betul saya rasakan bahwa saya menjadi jauh lebih kuat sejak saya melahirkan. Walaupun tentu belum sempurna.

Waktu saya kecil saya sering sekali bertengkar dengan ibu saya. Sering ngambek, sering marah, sering mengucap kasar kepada beliau. Dipikir sekarang, tidak bisa saya bayangkan bagaimana rasa patah hatinya ibu saya pasti melihat anak yang pada masa kecilnya saya yakin selalu dicium sayang sambil dibisiki doa kemudian malah berani membantah beliau. Pasti hati ibu saya sudah pecah berkeping-keping. Wong melihat anak minum susu sedikit atau berat badannya kurang saja rasanya mencelos sediiihh sekali. Pantas saja pernah ibu saya berujar dulu waktu kami bertengkar, “kamu tidak akan paham bagaimana perasaan ibu sekarang sebelum kamu sendiri menjadi seorang ibu,”. Mengingat ini bikin saya pengen sujud minta ampun sama ibu saya. 

Menjadi ibu adalah suatu anugrah. Memiliki kesempatan untuk merawat Reika adalah anugrah yang sangat besar, dan saya sangat bersyukur untuk tiap detik yang saya lewatkan untuk bisa berguna baginya. Saya tidak tahu berapa banyak waktu yang tersisa untuk saya di dunia, dan yang paling menyedihkan buat saya jika waktu untuk saya tiba adalah kehilangan kesempatan untuk terus merawat dan menghabiskan waktu bersamanya. 

Dalam perjalanan saya sejauh ini, saya mencoba menjadi kuat, tapi tentu saja  tidak bisa saya lakukan sendirian. Saya banyak dibantu oleh orang tua saya, juga suami saya. Dukungan mereka secara moral dan fisik adalah bantuan terbesar dalam proses ini.  Dan untuk itu saya sangat berterima kasih. 

Perjalanan saya masih sangat panjang, saya berharap saya bisa menjadi lebih kuat dan lebih baik lagi. Saya ingin menjadi batu tumpuan untuk anak-anak saya, I wanna be their rock. I want them to know that they can always rely on me for anything. Proses pembelajaran saya masih sangat panjang, panjang sekali. Semoga saya diberi kesempatan untuk melewati proses tersebut. 

Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah mudahkanlah..

Advertisements

Flat

When you have a baby, your days are never the same: some days are exhausting, some days are so easy and fun!

But no matter what, you look at your newborn and you will always see love. 

Growth Spurt? 

Gatau deh apa Reika lagi growth spurt atau emang napsu nyusu bayi makin meningkat drastis hari ke hari, tapi hari ini dia bener-bener nempel saya banget. Sampe mandi pun saya ga bisa, tidur pun harus ngetekin dia biar dia ngerasa lagi digendong. Itupun cuma 2 jam, abis itu dia bangun. 

Reika sekarang kalo nangis dahsyat bener. Jeritannya masya Allah, padahal cuma mau ngempeng. Kalo siang masih gapapa, tetangga kan kerja. Kalo malem saya ga enak, makanya kalo malem dia ngerengek dikit langsung turutin aja. Jangan sampe nangis. 

Berat badan Reika bisa dibilang ga melonjak drastis, kalem kalem aja. Dokternya malah sempet khawatir dan bilang perlu naik lebih banyak lagi. Tapi petugas puskesmas sih santai dan bilang masih normal kok. 

Saya dan suami? Kita bingung mana yang bener. Tapi emang sih agak galau kalo liat foto bayi berseliweran di sosmed dan bayinya tuh gemuk-gemuk, badannya belipet-lipet, pipinya tumpah ruah. Reika mah yang belipet lehernya doang, sekarang mending sih pahanya ada lipetan dikit. Emang dasar sosmed itu media bikin kita bandingin hidup sendiri dengan hidup orang lain yes? 

Ngadepin Reika growth spurt bukan yang pertama, tapi yang dirasa selalu sama: capek! Capek lahir batin ples ngantuk karena sangat kurang tidur. Stress ga? 

Udah beyond stress. 

Udah di point dimana saya yang ngantuk-ngantuk gendong dia trus ngeliatin mukanya, trus ketawa geli sendiri. Gatau kenapa. Dan Reika juga ikutan nyengir (apa halusinasi saya doang ya?)

Trus saya bilang ke dia “gila ya, dek. Dulu pasti nenek kamu setress juga kayak gini. Jangan-jangan malah lebih parah”

Dan dia mandengin saya kaya ngerti apa yang saya omongin. Mungkin dia bilang “makanya, baru segini aja udah setres, eyang putri begini sampe 4 kali loh. Sabar dong ma, perjalanan masih panjang”

 Ya ampun, I really need to sleep! 

  

Wajah tersangka utama yang tetep aja ga bisa bikin emaknya marah. 

Life: This is How You Remind Me

Life is a funny thing, a laughable and tearjerker material. No, seriously. 

The role you had in life is pretty much designated that you could actually predict what will happen next. And yet, you are still left bewildered. 

You watched a scene in your early life, but you can’t comprehend it yet, so you just store that scene on your memory, keep it there, often forget about it. 

And then someday if you are lucky enough, you could watch the scene being re-enacted, by yourself as a main protagonist – or antagonist, if you are unlucky. And then suddenly everything makes sense to you. 

Like today, when my mum went back to Indonesia, leaving me and my 1 month old baby, I, undoubtedly, could not take the moment lightly and started to cry at home. Even with my baby cried profusely demanded to be hold and given breastmilk, I couldnt let my mind escape the melancholy of me as a child, missing her mum. 

And then it hits me, suddenly I remember this scene. 

I was 8 or 9, when I watched my grandma’s teary eyes from the car’s window as our car left her house. My mum was holding her tears and looked away when I gazed at her. This is the typical farewell every year whenever we visited grandma’s house for Eid celebration. There will be a melancholy scene, to which I couldnt comprehend before today, my grandma kissing top of my head and then my mum kissing my grandma’s wrinkled cheeks while both of them exchange a certain sad looks and tried their best holding their tears. I was too young to understand the meaning, let alone the feeling, of this scene. 

But today I finally understood every single thing about that memory. Me trying to reassure myself that my life goes on, being strong for my baby and kept the goddamn tears from falling, kissed my mom’s cheek, pretending I would be fine, because I know she has been holding her emotions as well. 

But then, with all other emotions boiled up, I started to have a meltdown. Cried like a baby, ironically in front of my baby, needing and missing my mum. So this is how it feels, this is how she felt years ago with my grandma. Oh, mother, how oblivious I am! 

Life is funny, I need to start digging my past memories so I can prepare what’s coming. 

26

Tentang menjadi 26 

Adalah bangun di tengah malam tanpa harapan adanya kue dan bunga seperti 25 (dan memang tidak ada kue dan bunga!) 

Adalah tentang terbangun karena rembulan-ku tidur tidak tenang, memberi hak-nya akan susu dan menungguinya sampai tertidur

Adalah tentang harapan untuk 26 kali lebih sabar, lebih dewasa, lebih peka, lebih kerja keras, lebih legowo, lebih dan lebih lagi. 

Adalah tentang do’a untuk dipermudah segala urusan ke depannya, diperpanjang rejeki-nya, diberkahi segala langkahnya, dicintai orang-orang sekitarnya, dan selalu dirahmati Allah swt. 

Adalah tentang Reika, Ando, Ibu, keluarga dan cinta. 

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga Allah ridho akan 26 tahun umurku dan umur yang akan datang, insya Allah.