Marshanda, Instagram dan Haters Gonna Hate

Panjang aje si judul. Gapalah, lagi iseng pengen nulis. Lagi ruwet pikiran soalnya.

Jadi akhir-akhir ini saya lumayan aktif beredar dan kepo-in instagram realm. Dulu suka kepikir di Instagram ada apaan sih? Taunya BANYAK banget!

Netizen Indonesia itu kreatif banget lho, selain fungsi basic IG yaitu pamer dan sharing kehidupan IG user (ups), mereka bisa juga jualan di IG, curhat, bikin video music, mini video, sampe nge-bully artis kesayangan pun jadi.

Kali ini mau ngebahas soal Marshanda. Saya bukan hater ataupun lover dia ya. Follow IG nya juga enggak. Suka nyiyir kadang-kadang kalo liat dia posting yang agak gimana-gimana gitu. Tapi selain itu ya biasa aja. Dahulu kala sebelum dia nikah sama Ben (trus cerai), dia sempet bikin heboh orang-orang dengan video “gila”-nya di Youtube. Yang merong-merong, mekong-mekong sama joget-joget (marah-marah, maki-maki). Video itu langsung viral, Marshanda pun kemudian terkenal sebagai artis yang “gila” atau punya masalah kejiwaan.

Nah, stigma ini muncul lagi ketika dia mulai copot jilbab, minta cerai, drama sama ibunya, trus….unggah video joget-joget di IG. Ketebak yes? Dia kena bully haters dibilang “gila” lagi. Ngakunya dia sih dia emang hobi melepas tekanan batin dan have fun lewat joget-joget sama temen-temennya. Ga perlu clubbing, ga perlu minum alkohol, cukup joget-joget di rumah. Inosen, kan?

Bagi yang belom pernah melihat videonya sendiri, mungkin bisa liat ini contohnya:

https://www.instagram.com/p/BG38sTfpw3C/?taken-by=marshanda99&hl=id

😂😝 cc. @rezerdewi

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ MARSHANDAさん(@marshanda99)が投稿した動画 – 2016 6月 20 4:13午前 PDT

 

Kalo saya mah bilangnya ini 100% inosen. Dalam artian, dia emang bener bahwa dia sober, pake baju yang decent, dan konten bahasanya juga ga bermasalah.

Kenapa, sih video joget-jogetnya mesti diupload di public?

Alasan pastinya tentu cuma dia dan Tuhan aja yang tahu. Tapi kalo kita merujuk dari paper ini, alasan orang sharing emosi-nya, terutama yang negatif, adalah untuk melepas stress, depresi, dan trauma. Jadi mungkin kalo Marshanda bilang dia pengen melepas stress dengan joget-joget, dia ga bohong. Kenapa mesti diupload? Mungkin dia belom merasa bener-bener lega dan butuh merasa lebih “lepas” lagi dengan menggunggahnya. Mungkin awalnya dia gatau kalo orang ternyata bakal salah paham.

Kalo emang beneran inosen dan normal, kenapa orang-orang jadi mandang negatif?

 

Karena haters gonna hate. lol.

I wish it is that simple.

No, serious. I wish I can take side 100% with Marshanda, but sorry I am not sorry.

Kaplan dan Heinlein (2010), membuat tabel klasifikasi tipe social-media dilihat berdasarkan dari self-perception dan media richness-nya:

kaplan.jpg

Self-presentation sendiri menggambarkan bagaimana seorang user memiliki kontrol akan impresi orang-orang terhadap dirinya yang dibentuk dari sebuah interaksi di dalam socmed. Nah, self-perception si user ini terbentuk berdasarkan dari seberapa banyak informasi yang, secara sadar atau tidak, dia beberkan di dalam interaksi tersebut (self-disclosure). Media-richness sendiri adalah teori yang dikembangkan oleh Daft dan Lengel (1986) yang mengevaluasi dan mengklasifikasi jenis medium of communication berdasarkan seberapa sedikitnya ambiguitas, uncertainty dan misunderstandings dalam menyampaikan sebuah informasi. (Maaf ya bahasanya nyampur-nyampur gini). Semakin sedikit uncertainty dan ambiguitas yang dihasilkan dalam sebuah komunikasi menggunakan medium tersebut, makan semakin “rich” lah dia. Contoh gampangnya, face-to-face communication akan meminimalisir adanya ambiguitas, uncertainty dll ketimbang  komunikasi melalui email. Karena faktor-faktor yang absen dalam komunikasi tertulis seperti ekspresi wajah, tone suara, immediate responsiveness, dll.

Nah, kalo merujuk ke table di atas (dan full papernya, disini), persepsi netizens Indonesia terhadap Marshanda “gila” kebanyakan diambil melalui media video baik di youtube dan Instagram. Meskipun media-richnessnya medium, tapi self-perception/self-disclosurenya rendah. Jadi memang sulit bagi Marshanda untuk mengontrol reaksi dan impresi masyarakat terhadap video joget-joget yang dia buat. Selain itu, karena media yang dia pakai adalah video dengan durasi terbatas, tanpa narasi (atau meski dengan narasi sekalipun yang tampaknya tidak membantu sama sekali di kasusnya dia), jadinya impresi orang terhadap dia yang “stress” pun makin menjadi-jadi. Padahal siapa tau setelah joget-joget itu, dia matikan kamera lalu  wudhu dan shalat khusyuk.  Jadi adanya bully-bully ini bukan cuma pengaruh haters gonna hate, itu juga sih, tapi juga karena Marshanda yang kurang bijak memilah informasi untuk ditampilkan, kurang gape membuat self-presentation, plus memilih media yang salah. Sehingga orang yang tadinya biasa aja sama dia, melihat video joget-joget itu juga jadi merasa “there`s something wrong about her” -walau mungkin dipikir-pikir, not necessarily so.

Nah, orang-orang udah terlanjur memandang negatif. Kok masih aja upload lagi? 

Okay, maybe she just wanted to take her pressure off by dancing with the music on, and that is pretty normal and innocent. But why she still uploaded it for public to see while consciously aware that people will judge her in negative way? Apa dia emang sengaja membuat imejnya sedemikian rupa?

Bisa jadi, sih. Dia selalu meng-klaim dirinya sendiri sebagai orang yang jujur terhadap dirinya sendiri. Mungkin imej inilah yang dia pengen tunjukkan ke orang-orang sehingga dia memutuskan bahwa joget-joget di video itu bukan sesuatu yang memalukan, tapi justru cara dia buat jadi jujur sama diri sendiri. Alasan seseorang membeberkan informasi tentang dirinya ke publik itu bisa bermacam-macam, sih. Dan meskipun teori tentang ini juga ada, tapi pada akhirnya ya beneran cuma dia sendiri aja yang ngerti alasannya. Jangan-jangan dia cuma iseng, jangan-jangan itu cry for help, jangan-jangan buat cari sensasi doang, atau jangan-jangan dia pengen ngajarin ke orang lain kalo mau have fun gampang aja, joget-joget aja trus upload di instagram.

Yang jelas apapun itu, kalo diliat dengan kacamata netral memang video yang dia unggah ga segitu “gila”nya, malah cukup inosen buat saya. Spare her on this part at least. Tapi yaaa mungkin kalo sekedar buat ngelepas stress, mending cari cara lain aja kali yeee. Soalnya kalo gara-gara itu jadi punya banyak haters trus jadi dibully terus, apa ga malah tambah stress?

 

Additional readings:

https://en.wikipedia.org/wiki/Media_richness_theory

http://info.ils.indiana.edu/~herring/teens.gender.pdf

http://website.education.wisc.edu/prsg/wp-content/uploads/2015/02/Liu-2014-Self-disclosure-on-SNS.pdf

 

 

 

 

 

Advertisements

Doki-Doki Juli

Gaya banget deh pake doki-doki. Maksudnya mah deg-degan banget ini mendekati bulan Juli. Karena bakal pertama kalinya ninggalin Reika selama seminggu penuh. ASIP sih udah mulai dikumpulin, visa, hotel dan tiket penerbangan udah booked, tinggal nyiapin tekad aja sanggup apa gak nih mau ninngalin si BOcil cuma berdua sama ayahnya aja.

Akhir-akhir ini Reika makin nempel tiap malem. Posesif banget ama nenennya. Bikin tambah galau apa bisa dia ga nenen dulu selama seminggu? Oh sungguh aku tak tau.

Bismillah aja deh. Semoga ilmu yang didapat selama pergi seminggu bisa berkah dan berguna bagi banyak orang nantinya. Aamiin.

Semangat, sih!