Pengalaman Lasik (Part 2)

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang persiapan lasik, maka untuk tes kedua saya datang dengan lebih banyak informasi tentang lasik dan mata saya, juga bawa uang buat settling pembayaran.

Fyi, lasik yang saya pilih adalah VisuLasik, dan bukan ReLex. Setelah saya browsing-browsing, ternyata beberapa pengalaman bilang bahwa VisuLasik lebih optimal mengoreksi astigmatism, dimana astigmatism saya lumayan tinggi.

Kondisi mata saya saat itu adalah: mata kiri minus 2.5 dan astigmatisme 3.5, mata kanan minus 4.5 dan astigmatisme 1.5

Biaya yang saya harus bayar totalnya adalah JPY 332,800 (termasuk pajak, obat dan perawatan post-lasik, dan sudah dipotong diskon 10% promo). Saya juga mendapatlam garansi, yaitu jika diharuskan melakukan lasik dalam waktu setahun setelah lasik, maka biaya gratis. Jika dalam waktu 1-3 tahun, biayanya sebesar JPY 29,000(plus pajak) untuk dua mata. Dan jika dalam waktu 3 – 10 tahun, biayanya sebesar JPY 79,000 (plus pajak) untuk satu mata.

Harga lasik itu bervariasi ya, tergantung kondisi mata dan juga teknologi yang dipakai. Ini contohnya yang ada di page Nagoya Eye Clinic (maaf pakai bahasa Jepang) http://www.lasik.jp/cost/

Kebanyakan klinik mata biasanya memiliki garansi, tapi mungkin beberapa klinik tidak cukup detil menjelaskan di website. Ini yang saya suka dari Nagoya Eye clinic karena semuanya terpapar jelas. Saya juga diberi penjelasan bahwa pada dasarnya operasi lasiknya sendiri gratis (biaya jasa dokter gratis), yang perlu dibayar adalah perlengkapan dan obat-obatannya. Jadi kalau bisa, ketika konsultasi, hal ini juga perlu ditanyakan dan dipertimbangkan.

Pemeriksaan kedua berlangsung selama 2 jam. Lebih intensif dan lebih banyak dari yang pertama. Bedanya kali ini saya tidak ditetesi cairan pembesar pupil. Sesudah pemeriksaan, saya yang ditemani suami disuruh menonton video penjelasan persiapan Lasik. Berikut ringkasannya:

  1. Pada saat operasi, mata pasien akan dipakaikan alat yang gunanya menjaga agar mata tetap terbuka
  2. Pada saat operasi, saya akan diberikan bantal untuk dipeluk, sementara itu, mohon tidak banyak menggerakkan kaki ketika operasi berlangsung
  3. Pasien diharuskan untuk melihat ke arah cahaya hijau yang ada di mesin selama operasi berlangsung. Dan jangan melirik ke kanan dan kiri
  4. Larangan penggunaan makeup, krim wajah, parfum, turtle neck pada hari operasi.
  5. diberikan obat tetes mata yang harus diteteskan mulai dari 3 hari sebelum

Di akhir sesi, saya disuruh memilih kacamata pelindung yang akan nantinya dipakai selama seminggu pasca operasi. Jenis kacamata ini bermacam-macam sesuai dengan keseharian pasien. Karena saya sehari-harinya bekerja dengan PC, maka saya memilih kacamata yang khususnya mengurangi paparan blue light PC. Juga yang memiliki pelindung di sisi framenya sehingga meminimalisir kemungkinan debu masuk.

Pada hari H, sesampainya di klinik saya diminta menunggu sebentar. Selama menunggu, saya diberi pil untuk diminum. Lalu saya diantar ke ruangan operasi, dipakaikan baju operasi dan ditetesi anestesi mata. Sekali lagi mata saya diperiksa. Setelah waktunya tiba, saya dibawa ke ruangan operasi di mana ada dua alat dan saya harus berbaring. Pada alat pertama, selama 30 detik masing-masing mata dilakukan tindakan (sepertinya ini saat dibuat flap). Ini cepat sekali dan sama sekali tidak terasa sakit. Dan adanya cahaya hijau membantu sekali untuk mata kita tahu kita harus melihat kemana.

Sepanjang 30 detik itu, dokternya selalu memberi tahu prosesnya “30 detik, 20 detik, 10 detik lagi, 5 detik lagi, bertahanlah. Selesai”. Menurut saya ini bagus sekali karena saya jadi tahu berapa lama lagi proses ini akan berlangsung. Saat proses ini selesai, saya kira operasinya selesai. Ternyata oh ternyata tempat tidur saya digeser menuju alat berikutnya. Waktu saya tanya, “sekarang apa?”. Susternya jawab “sekarang, operasinya dimulai”

What? trus tadi apaan dong? hahahaha.

visumax02

VisuMax alat yang dipakai untuk prosedur lasik Visulasik. Gambar diambil dari website Nagoya Eye Clinic

Masih dalam kondisi rebahan, mata kanan saya dipasangi plester. Dalam kondisi ini saya masih bisa melihat dengan jelas. Plester dipasang di atas dan di bawah mata kanan untuk “membuka mata” ditambah saya dipasangi pengganjal mata. Mata kiri ditutup. Setelah itu operasi “sesungguhnya dimulai”. Yang saya tahu adalah mata saya disterilkan, diberikan anestesi lagi (dokter selalu bilang prosesnya), kemudian sesudahnya saya melihat banyak cahaya merah dan hijau. Dokter terus mengingatkan untuk melihat ke cahaya hijau. Setelah beberapa saat, dokter bilang kalau laser akan dimulai. “30 detik, 20 detik, 10 detik, 5 detik. Yak selesai”

Iya, hanya 30 detik saja dan SAMA SEKALI tidak terasa apa-apa! Cuma yang bikin saya agak trauma adalah saat dilaser itu saya bisa mencium bau benda terbakar! Walau cuma 30 detik tapi bikin parno juga..huhu. Ditambah lagi selama 30 detik itu saya melihat berbagai macam sinar dan situasinya agak bikin ndredek. Insting manusia saat melihat hal yang bikin ga nyaman adalah memejamkan mata, kan? Nah karena mata diganjal jadi ga bisa (ga boleh juga, sih). Jadilah saya “dipaksa” menikmati sensasai melihat berbagai sinar warna dan kegelapan tersebut.
Jadi sebenarnya ini yang saya maksud dengan sedikit trauma dari lasik. Bukan sakitnya, karena alhamdulillah saya sama sekali tidak merasa sakit selama proses lasik berlangsung. Mungkin karena ga ada yang pernah cerita ke saya bagaimana exactly ketika proses berlangsung jadi saya ga ada persiapan dan bayangan akan seperti apa.

maxresdefault

Mungkin kira-kira begini yang saya lihat. Tapi warna merah dan oranye mendominasi. 

Anyway, ketika mata kiri dilasik, saya sudah tau what’s coming, jadi lebih siap mental. Prosesnya sama, sebelum dilasik asisten dokter utama membacakan profil saya dan profil mata saya. Setelah mendapat persetujuan dari dokter, lasik mata kiri pun dimulai. Setelah selesai saya dibawa keluar ruangan operasi, diperbolehkan membuka mata. Dan tetap tidak sakit sama sekali, saat itu alhamdulillah masih bisa melihat, tapi penglihatan masih seperti berkabut.

Saya disuruh istirahat di sofa nyaman di ruangan yang temaram, beberapa kali ditetesi obat mata dan disuruh memejamkan mata dan rileks selama 15 menit.

Setelah 15 menit, saya ditetesi obat mata kembali dan ditemani suster berjalan kembali ke ruang tunggu menemui suami saya. Saat itu saya merasa penglihatan saya membaik dari sebelumnya. Bedanya adalah agak sedikit berkabut.

Setelah bertemu suami, saya diminta memakai kacamata proteksi yang saya pilih seminggu sebelumnya. Saya diberi resep 4 jenis obat tetes yang salah satunya harus ditetesi setiap sejam sekali sampai checkup keesokan harinya, diberi kacamata goggle yang bentuknya mirip kacamata renang yang nantinya dipakai saat tidur, saya juga diberi painkiller kalau-kalau butuh. Sejak saya dibawa ke ruang operasi sampai kembali bertemu suami, total waktunya sekitar satu setengah jam. Jadi memang cepat sekali.

Sebelum pulang suster memberi tahu beberapa pantangan untuk malam itu:

  1. Dilarang berendam air panas (ofuro)
  2. Dilarang mencuci muka
  3. Dilarang main PC, handphone, nonton TV sampai 2 hari berikutnya
  4. Dilarang pakai makeup/krim wajah
  5. Dilarang berolahraga
  6. Pakai terus kacamata pelindung serta goggle saat tidur
  7. Dilarang mengusap, menggosok, menyentuh mata dengan tangan langsung (diberikan tisu basah khusus)
  8. Dilarang keramas

Sepanjang jalan menuju rumah, barulah terasa ada stinging sensation di kedua mata saya, seperti kalau kelilipan. Tapi tidak sampai sakit segitunya sih. Terutama setelah ditetesi obat mata yang tiap sejam sekali itu, obat mata itu rupanya anti-inflamasi dan alhamdulillah banyak membantu.

IMG_0784[1]

4 jenis obat tetes mata. Selain yang abu-abu, semuanya ditetesi 4 kali sehari (pagi, siang, malam, sebelum tidur)

Di rumah saya berusaha banyak beristirahat, memejamkan mata memang paling nyaman. Tapi kadang gatel juga pengen buka hape, nonton TV, dsb. Karena memang rasanya seperti tidak habis operasi. Walau ada sedikit discomfort, tapi tidak terlalu terasa. Penglihatan saya malam itu sudah jauuh lebih baik. Pandangan sudah tajam, sudah bisa mengenali wajah orang lain padahal dulu kalau tanpa kacamata akan blurr.

Sekian postingan part 2, untuk check up pertama sampai 7 hari pasca lasik saya lanjut di postingan berikutnya ya (itu juga kalau masih ada yang mau baca, hehe)

Advertisements

Pengalaman Lasik (Part 1)

Beberapa waktu lalu saya posting di laman fesbuk mengenai pengalaman singkat saya 3 jam sesudah lasik. Semoga tulisan ini membantu teman-teman yang mempertimbangkan lasik..

Lasik sendiri adalah refractive surgery yang bertujuan mengoreksi kelainan mata myopia (yang lebih dikenal sebagai minus), hyperopia(plus) dan astigmatism(silinder). Dengan menggunakan femtosecond laser, sebuah flap dibuat  di kornea untuk nantinya kornea akan disinari dengan laser untuk mengoreksi kelainan mata tersebut. Flap kemudian ditutup kembali dan prosedur pun selesai. Terdengar simpel ya? Dan kenyataannya memang prosedurnya cepat, kok. Terutama dengan teknologi yang makin berkembang sehingga prosesnya pun menjadi lebih cepat dan lebih akurat.

lasik-02

Proses lasik. Gambar ini diambil dari Jakarta Eye Center.

Jadi kenapa saya memutuskan untuk menjalani prosedur lasik?

Pertama karena saya capek pakai kacamata. Saya sudah memakai kacamata sejak SD kelas 6. Minus saya waktu itu tidak terbilang tinggi, tetapi seiring berjalannya waktu, silinder saya ikut memburuk. Saya sudah memiliki keinginan menjalani lasik sejak SMA Waktu itu jelas pilihan lasik hanya angan-angan karena harganya tidak terjangkau untuk anak SMA seperti saya.
Ketika saya mulai magang, atasan saya mengaku kalau dia baru lasik setahun lalu dan itu merubah hidupnya. Saya pun jadi teringat kembali keinginan yang lama. Kemudian sejak itu berikrar untuk mengumpulkan uang untuk lasik. Jadi memang keputusan lasik bukan hal yang tiba-tiba, sih. Penuh pertimbangan yang panjang (dan nabung! lol).

Kedua, Waktu saya pergi cek kondisi mata apakah mata saya sesuai untuk menjalani lasik, saya diberi tahu bahwa dengan kondisi mata saya saat itu, saya cuma boleh memakai lensa kontak selama 6 bulan ke depan saja. Sebabnya karena kondisi mata saya yang kering dan  sudah kurang bagus (saya lupa penjelasan detilnya). Jadi pilihannya adalah lasik atau memakai kacamata seumur hidup. Soalnya lensa kontak sudah tidak bagus lagi dipakai.

Ketiga, banyaknya restriksi karena kacamata. Seperti misalnya mau renang, onsen, nonton film 3D, dan banyak lagi lainnya. Ditambah udah punya anak, kacamata sering ditarik-tarik bocil pas gendong dia.

Pre-Lasik preparation

Pertama adalah menentukan mau lasik di klinik yang mana dengan mempertimbangkan banyak hal seperti reputasi klinik, review orang lain, teknologi yang digunakan, juga harga dan budget. Karena saya tinggal di Nagoya, opsi yang saya punya lebih terbatas daripada kalau tinggal di Tokyo. Ada dua klinik yang menjadi pilihan, yaitu Nagoya Eye clinic dan Shinagawa Eye clinic cabang Nagoya. Dari segi harga, memang Shinagawa Eye clinic sedikit lebih murah, tapi saya kemudian mempertimbangkan lokasi dan juga teknologi alat lasik yang digunakan. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Nagoya eye clinic dulu.

Tahapan pertama setelah datang ke klinik adalah untuk memeriksakan kondisi mata apakah cocok untuk menjadi pasien lasik. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti usia, kondisi ketebalan kornea dan lain-lain.

Proses ini gratis dan tidak dipungut biaya sama sekali, memakan waktu sekitar 2 jam. Di akhir tes saya diberikan penjelasan mengenai hasilnya. Di sini lah saya tahu bahwa kondisi mata saya sudah kurang bagus lagi untuk terus memakai lensa kontak. Juga diberi penjelasan soal prosedur lasik, ekspektasi kondisi mata setelah lasik.

Ibu suster yang menjelaskan kepada saya berusia sekitar 40 tahun dan fasih berbahasa inggris. Menyesuaikan dengan hasil tes, pilihan lasik saya ada dua: VisuLasik dan Relex Smile. Relex smile adalah metode yang lebih baru, flap tidak perlu dibuat seperti lasik, hanya perlu menyayat kornea 2mm. Jadi untuk yang matanya kering, lebih bagus ReLex karena kornea tidak banyak “dirusak”. Pemulihannya pun lebih cepat. Sebelum memutuskan antara VisuLasik dan Relex, saya bertanya kepada ibu susternya:

“Jika anakmu memiliki kondisi mata seperti saya sekarang ini, akankah kamu merekomendasikan anakmu untuk menjalani lasik?”

Ibu suster itu lumayan terkejut juga mendengar pertanyaan saya yang tricky. Akhirnya beliau menjawab dengan jujur “Karena kamu punya silinder yang cukup tinggi, lasik tidak akan bisa 100% mengoreksi ini. Maka saya akan merekomendasikan prosedur lain. Tetapi, prosedur tersebut harganya dua kali lipat dari harga lasik. Jadi kembali lagi dengan kebutuhan dan kondisi kamu. Yang saya bisa katakan adalah, walau mungkin silinder kamu tidak bisa hilang 100%, tapi lasik akan membantu kamu sehingga kamu tidak perlu memakai kacamata kembali,”

Saya menghargai sekali kejujuran ibu suster ini dan menganggap jawaban beliau cukup memuaskan. Di akhir sesi penjelasan di mana saya bertanya banyak sekali, seperti kemungkinan terburuk, garansi setelah prosedur, cabang klinik lain di luar negeri kalau suatu saat saya pindah, profil dokter, alat yang digunakan, dll. Yang membuat saya makin mantap dengan Nagoya Eye Clinic adalah ibu suster itu menjelaskan dengan sabar tanpa ada rasa pressure untuk saya menjalani lasik di klinik itu secepatnya. Padahal saya baca-baca pengalaman orang lain di klinik lain, ada yang susternya/dokternya seperti terkesan memaksa atau menekan pasien untuk lasik dalam bulan berikutnya.

Sebelum saya pulang, suster itu bilang “tolong pikirkan baik-baik jika memutuskan untuk menjalani lasik, baik keuntungan dan resikonya. Jangan terburu-buru dalam memutuskan. Kalau perlu riset lebih banyak lagi biar mantap.”

Oya, dalam tes pertama itu, mata saya ditetesi obat yang memaksimalkan kelebaran pupil (kalau ga salah), efeknya adalah cahaya yang masuk jadi banyak ke mata dan bikin penglihatan agak missed walau sudah pakai kacamata. Karena itu, tidak disarankan untuk menyetir, naik sepeda setelah tes ini. Bahaya! Besoknya sudah pulih seperti sedia kala sih.

Tahap kedua seharusnya adalah pemeriksaan kedua. Pemeriksaan ini dilakukan seminggu sebelum hari H lasik. Ditujukan untuk mengecek kondisi mata lebih dalam dan apakah hasilnya stabil dengan hasil pemeriksaan sebelumnya. Saya periksa pertama itu bulan Oktober. Waktu itu pingin banget bulan depannya periksa kedua tapi ternyata kerjaan ga bisa ditinggal karena menurut ibu suster, kalau mau lasik, pilihlah hari dimana kita ga harus travelling paling tidak seminggu setelah lasik, atau membutuhkan kerja mata yang keras dalam sebulan ke depan (misal dikejar deadline). Karena bulan Desember saya bakal sibuk sampai April, akhirnya keputusan untuk lasik pun ditunda sampe April.

Akhirnya saya membuat jadwal untuk tes tahap kedua sekaligus jadwal lasiknya. Beberapa pertimbangan sebelum memutuskan hari H lasik:

  • Pilih waktu di mana kerjaan lagi ga numpuk sehingga ada waktu untuk pemulihan paling tidak seminggu pertama setelah lasik
  • Setelah lasik, ada beberapa pantangan seperti ga boleh olahraga berat, pergi ke tempat berdebu, berenang, makeup mata, dll. Pilih waktu di mana ga ada keharusan untuk travelling, olahraga, atau meeting penting yang mengharuskan pakai make up lengkap.
  • Persiapkan dan sesuaikan dengan jadwal orang lain di sekitar kita pada hari H. Misalnya kalau punya anak, siapa yang bisa menggantikan pegang anak, atau siapa yang bisa mengantar ke rumah sepulang dari lasik, dll
  • Preferably lasik dilakukan di hari Jum’at agar pasien ada waktu untuk istirahat di rumah selama dua hari sebelum kembali ke kantor lagi.

Sekian tips-tips dari saya, selanjutnya dilanjut di postingan berikutnya, ya!