Pengalaman Lasik (Part 1)

Beberapa waktu lalu saya posting di laman fesbuk mengenai pengalaman singkat saya 3 jam sesudah lasik. Semoga tulisan ini membantu teman-teman yang mempertimbangkan lasik..

Lasik sendiri adalah refractive surgery yang bertujuan mengoreksi kelainan mata myopia (yang lebih dikenal sebagai minus), hyperopia(plus) dan astigmatism(silinder). Dengan menggunakan femtosecond laser, sebuah flap dibuat  di kornea untuk nantinya kornea akan disinari dengan laser untuk mengoreksi kelainan mata tersebut. Flap kemudian ditutup kembali dan prosedur pun selesai. Terdengar simpel ya? Dan kenyataannya memang prosedurnya cepat, kok. Terutama dengan teknologi yang makin berkembang sehingga prosesnya pun menjadi lebih cepat dan lebih akurat.

lasik-02

Proses lasik. Gambar ini diambil dari Jakarta Eye Center.

Jadi kenapa saya memutuskan untuk menjalani prosedur lasik?

Pertama karena saya capek pakai kacamata. Saya sudah memakai kacamata sejak SD kelas 6. Minus saya waktu itu tidak terbilang tinggi, tetapi seiring berjalannya waktu, silinder saya ikut memburuk. Saya sudah memiliki keinginan menjalani lasik sejak SMA Waktu itu jelas pilihan lasik hanya angan-angan karena harganya tidak terjangkau untuk anak SMA seperti saya.
Ketika saya mulai magang, atasan saya mengaku kalau dia baru lasik setahun lalu dan itu merubah hidupnya. Saya pun jadi teringat kembali keinginan yang lama. Kemudian sejak itu berikrar untuk mengumpulkan uang untuk lasik. Jadi memang keputusan lasik bukan hal yang tiba-tiba, sih. Penuh pertimbangan yang panjang (dan nabung! lol).

Kedua, Waktu saya pergi cek kondisi mata apakah mata saya sesuai untuk menjalani lasik, saya diberi tahu bahwa dengan kondisi mata saya saat itu, saya cuma boleh memakai lensa kontak selama 6 bulan ke depan saja. Sebabnya karena kondisi mata saya yang kering dan  sudah kurang bagus (saya lupa penjelasan detilnya). Jadi pilihannya adalah lasik atau memakai kacamata seumur hidup. Soalnya lensa kontak sudah tidak bagus lagi dipakai.

Ketiga, banyaknya restriksi karena kacamata. Seperti misalnya mau renang, onsen, nonton film 3D, dan banyak lagi lainnya. Ditambah udah punya anak, kacamata sering ditarik-tarik bocil pas gendong dia.

Pre-Lasik preparation

Pertama adalah menentukan mau lasik di klinik yang mana dengan mempertimbangkan banyak hal seperti reputasi klinik, review orang lain, teknologi yang digunakan, juga harga dan budget. Karena saya tinggal di Nagoya, opsi yang saya punya lebih terbatas daripada kalau tinggal di Tokyo. Ada dua klinik yang menjadi pilihan, yaitu Nagoya Eye clinic dan Shinagawa Eye clinic cabang Nagoya. Dari segi harga, memang Shinagawa Eye clinic sedikit lebih murah, tapi saya kemudian mempertimbangkan lokasi dan juga teknologi alat lasik yang digunakan. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Nagoya eye clinic dulu.

Tahapan pertama setelah datang ke klinik adalah untuk memeriksakan kondisi mata apakah cocok untuk menjadi pasien lasik. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti usia, kondisi ketebalan kornea dan lain-lain.

Proses ini gratis dan tidak dipungut biaya sama sekali, memakan waktu sekitar 2 jam. Di akhir tes saya diberikan penjelasan mengenai hasilnya. Di sini lah saya tahu bahwa kondisi mata saya sudah kurang bagus lagi untuk terus memakai lensa kontak. Juga diberi penjelasan soal prosedur lasik, ekspektasi kondisi mata setelah lasik.

Ibu suster yang menjelaskan kepada saya berusia sekitar 40 tahun dan fasih berbahasa inggris. Menyesuaikan dengan hasil tes, pilihan lasik saya ada dua: VisuLasik dan Relex Smile. Relex smile adalah metode yang lebih baru, flap tidak perlu dibuat seperti lasik, hanya perlu menyayat kornea 2mm. Jadi untuk yang matanya kering, lebih bagus ReLex karena kornea tidak banyak “dirusak”. Pemulihannya pun lebih cepat. Sebelum memutuskan antara VisuLasik dan Relex, saya bertanya kepada ibu susternya:

“Jika anakmu memiliki kondisi mata seperti saya sekarang ini, akankah kamu merekomendasikan anakmu untuk menjalani lasik?”

Ibu suster itu lumayan terkejut juga mendengar pertanyaan saya yang tricky. Akhirnya beliau menjawab dengan jujur “Karena kamu punya silinder yang cukup tinggi, lasik tidak akan bisa 100% mengoreksi ini. Maka saya akan merekomendasikan prosedur lain. Tetapi, prosedur tersebut harganya dua kali lipat dari harga lasik. Jadi kembali lagi dengan kebutuhan dan kondisi kamu. Yang saya bisa katakan adalah, walau mungkin silinder kamu tidak bisa hilang 100%, tapi lasik akan membantu kamu sehingga kamu tidak perlu memakai kacamata kembali,”

Saya menghargai sekali kejujuran ibu suster ini dan menganggap jawaban beliau cukup memuaskan. Di akhir sesi penjelasan di mana saya bertanya banyak sekali, seperti kemungkinan terburuk, garansi setelah prosedur, cabang klinik lain di luar negeri kalau suatu saat saya pindah, profil dokter, alat yang digunakan, dll. Yang membuat saya makin mantap dengan Nagoya Eye Clinic adalah ibu suster itu menjelaskan dengan sabar tanpa ada rasa pressure untuk saya menjalani lasik di klinik itu secepatnya. Padahal saya baca-baca pengalaman orang lain di klinik lain, ada yang susternya/dokternya seperti terkesan memaksa atau menekan pasien untuk lasik dalam bulan berikutnya.

Sebelum saya pulang, suster itu bilang “tolong pikirkan baik-baik jika memutuskan untuk menjalani lasik, baik keuntungan dan resikonya. Jangan terburu-buru dalam memutuskan. Kalau perlu riset lebih banyak lagi biar mantap.”

Oya, dalam tes pertama itu, mata saya ditetesi obat yang memaksimalkan kelebaran pupil (kalau ga salah), efeknya adalah cahaya yang masuk jadi banyak ke mata dan bikin penglihatan agak missed walau sudah pakai kacamata. Karena itu, tidak disarankan untuk menyetir, naik sepeda setelah tes ini. Bahaya! Besoknya sudah pulih seperti sedia kala sih.

Tahap kedua seharusnya adalah pemeriksaan kedua. Pemeriksaan ini dilakukan seminggu sebelum hari H lasik. Ditujukan untuk mengecek kondisi mata lebih dalam dan apakah hasilnya stabil dengan hasil pemeriksaan sebelumnya. Saya periksa pertama itu bulan Oktober. Waktu itu pingin banget bulan depannya periksa kedua tapi ternyata kerjaan ga bisa ditinggal karena menurut ibu suster, kalau mau lasik, pilihlah hari dimana kita ga harus travelling paling tidak seminggu setelah lasik, atau membutuhkan kerja mata yang keras dalam sebulan ke depan (misal dikejar deadline). Karena bulan Desember saya bakal sibuk sampai April, akhirnya keputusan untuk lasik pun ditunda sampe April.

Akhirnya saya membuat jadwal untuk tes tahap kedua sekaligus jadwal lasiknya. Beberapa pertimbangan sebelum memutuskan hari H lasik:

  • Pilih waktu di mana kerjaan lagi ga numpuk sehingga ada waktu untuk pemulihan paling tidak seminggu pertama setelah lasik
  • Setelah lasik, ada beberapa pantangan seperti ga boleh olahraga berat, pergi ke tempat berdebu, berenang, makeup mata, dll. Pilih waktu di mana ga ada keharusan untuk travelling, olahraga, atau meeting penting yang mengharuskan pakai make up lengkap.
  • Persiapkan dan sesuaikan dengan jadwal orang lain di sekitar kita pada hari H. Misalnya kalau punya anak, siapa yang bisa menggantikan pegang anak, atau siapa yang bisa mengantar ke rumah sepulang dari lasik, dll
  • Preferably lasik dilakukan di hari Jum’at agar pasien ada waktu untuk istirahat di rumah selama dua hari sebelum kembali ke kantor lagi.

Sekian tips-tips dari saya, selanjutnya dilanjut di postingan berikutnya, ya!

Advertisements

One thought on “Pengalaman Lasik (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s