Mrs Cold

  1. On being bitter -unconsciously

Ceritanya ketemu sama Yud1 pas lagi biztrip ke Indonesia dua minggu lalu. Terus di akhir perjumpaan, he put a remark on me, “You are getting bitter,”.

Saya ketawa doang. Partly karena saya juga merasa demikian. Yes, I am becoming a bitter person. Tapi sampe harus banget si Yud1 ,-salah satu orang terpahit yang saya pernah temui, yang mesti komen gitu ke saya?

In my defense, the meeting was in the end of my long-exhausted day, I was sleep deprived and I used up all my energy to be nice to people. He just caught me at the wrong time. Still, it is no excuse to be rude and bitter to others. My fault, really.

Dulu saya orang yang selalu berusaha di sisi positif dan berusaha untuk memandang segala hal sebagai sesuatu yang bisa berakhir bahagia. Tapi kayanya makin kesini makin menyadari bahwa, things are just the way they supposed to be, even if you are trying so hard. But even so, people should still try their hardest, because if not, what is their purpose in life? In giving their best, they contribute some values to their mere existence.

Okay, I might be projecting myself here. Karena kayanya itu stance saya tentang hidup sekarang, dan mungkin yang berkontribusi pada keadaan saya yang jadi serba pait gini.

 

2. On being professional at work

Sejak hidup di Jepang di mana masyarakatnya berusaha untuk memberikan performa terbaik mereka saat mereka kerja, saya jadi ikut terpacu untuk juga mengeluarkan potensi dan atensi sebanyak yang saya bisa terhadap pekerjaan. Saya belum menjadi workaholic yang menikah dengan pekerjaan saya, sih. But I can say that I am capable and reliable at my work, and I can still get better if more resources are put into places.

Bahkan ketika saya out of station dan bekerja diluar pengawasan, saya tetap mawas diri dan memastikan bahwa saya memberikan 100% kemampuan saya. It is amazing to know that the old me who was always late in every appointment, is now has changed entirely. Setiap hari selama di Indonesia, saya sampai di tempat tujuan dua setengah jam lebih awal, supaya tidak terjebak macet. Karenanya saya tidur hanya 4 jam sehari.

Honestly, santai is no longer in my book now.

Sebenernya yang memacu saya untuk menjadi sedikit lebih keras terhadap diri sendiri adalah kesadaran diri bahwa ini salah satu cara agar saya bisa lebih guilt-less terhadap dunia yang tidak adil. Saya memang bukan anak dengan silver spoon on my mouth. Tapi saya juga bukannya pernah merasakan penderitaan atau perjuangan hidup yang segitunya. Dan ini kadang membuat saya marah, kepada siapa saya sendiri kurang tahu. Pada akhirnya saya menyadari bahwa tetap marah pada keadaan ga bisa merubah apapun, yang bisa dilakukan yang melakukan yang terbaik yang ada di depan mata. Fight the battle that can be won.

Bagusnya, tentu ini adalah perubahan yang sangat positif, terutama saya yang sedang terus menerus berusaha menjadi dewasa yang bertanggung jawab.

Tapi ya jeleknya, saya jadi makin gampang merasa bitter dan kesal kalo lihat orang lain tidak segitunya berusaha. Okelah, mungkin mereka berusaha, tapi kalau standar effortnya tidak mendekati 100% rasanya sebal. I understand things might not always be perfect, but knowing that the failures are due to laziness, THAT is irritating.

3. On being a mother

It is always a challenge. Beneran. Nothing in my life has put me into my limit as being a mother did. Walau ga punya pembantu, tapi untungnya suami mau diajak kerjasama ngurusin rumah. Jadi masih ada sisa tenaga buat ngadepin bocah yang terus-terusan tumbuh dan belajar hal baru.

I learned a great deal by growing up with her. Tiba-tiba jadi ngeh kenapa dulu ibu-bapakku kok begini, kenapa mereka kok begitu. Kenapa Reika kok sekarang begini, dan kalo saya bereaksi begini mungkin dia akan jadi begitu. Dan sebagainya.

Being a mother has really put my life into perspective and I don’t hate it (not glorifying it, but not hating it, either).  Segi positifnya ya saya menjadi manusia yang punya tambahan alasan untuk jadi lebih disiplin (kasih contoh juga lah kalo mau anaknya ngikut begitu juga). Susahnya, konsisten itu susah. Namanya juga manusia. Ngasih pengertian ke anak bahwa konsisten itu perlu usaha dan manusia bisa salah (orang tua juga bisa salah) itu bukan perkara yang mudah.

But it is not impossible too. So..

IMG_3228

I learned to laugh on what seemingly a difficult situation

4. On love after marriage

Every time people asked my opinion on marriage, I would say “it is not a rosy thing. You should put away your rose-tinted glass. Marriage is not for someone who wish to live happily ever after. It never is a solution to those who seek for happiness.”

I sound  bitter and I see marriage in a bland way. I know. Because, most of the time, it is true. Bukan bitter sebenernya, cuman jadi lebih realistis aja.

Ini bukan berarti saya ga bahagia dalam pernikahan saya lho, ya. Otidabukanbegitu. Saya cukup berbahagia punya suami yang pretty much on the same page untuk urusan menjalani rumah tangga. Tapi pernikahan saya seperti layaknya pernikahan lainnya, butuh constant effort untuk membuatnya terjaga baik dan ga melulu romantis bunga-bunga. 80% ya memang isinya rutinitas yang membosankan. Dan itu normal banget.

Untungnya waktu saya mau nikah dulu, saya ga pernah punya ekspektasi yang gimana-gimana soal pernikahan. Apa tiap hari bakal romantis masak bareng ala Rangga dan Cinta misalnya. Enggak lah.

Jujur aja bayangan saya abis nikah ya saya melanjutkan hidup saya seperti biasa, ga ada yang berubah. Bedanya cuma saya sekarang punya temen serumah.

Untungnya bayangan dan kenyataan ga jauh banget melesetnya. Ando bukan tipe penuntut, pengatur, atau serba bergantung sama istri. Jadi saya masih bisa menjalani hari-hari saya seperti biasanya, walau kadar “suka-suka gue”-nya jadi lebih terkontrol. Terutama sejak punya anak.

Jadi walau bukan roses and rainbows yang selalu mengisi hari-hari (dan bukan itu juga sih yang saya cari dari pernikahan), tapi saya cukup bahagia karena I know I can count on him to work as a team, and as an individual when it is needed.

Professionally speaking, what else are you looking for in a partner, am I right?

5. On romanticizing the life I don’t have

More often now, I am thinking to return home.

As in return to Indonesia.

Mungkin ini gara-gara sejak SMP saya udah hidup terpisah dari orang tua. Jadi entah gimana selalu ada kepingan masa lalu dan waktu yang hilang yang seharusnya terisi oleh orang tua saya. Dan saya ingin membayarnya sekarang. Paling terasa sih sejak Reika lahir.

Tiba-tiba pengen banget bisa lebih banyak menghabiskan waktu bareng orang tua, melihat mereka main sama Reika, dan ngobrol lebih banyak. Mengganti waktu yang dulu pernah terlewat, selagi masih sempat.

Tiap kali pikiran ini datang, saya selalu bikin pro and cons list di dalam kepala. Apa hidup di Indonesia bener-bener hal yang saya mau dan siap lakukan. Apa ini langkah yang saya siap ambil dan siap pertanggung jawabkan.

Atau apakah itu hanya saya yang mencoba meromantisasi hal-hal yang saya ga punya. Gimana kalo begitu balik ke Indonesia saya justru meromantisasi balik kehidupan di Jepang?

Kalau gitu, kapan puasnya, saya pikir.

5e2a4-grassisgreener3

But sure is not easy to accept things the way they are. Efeknya ya saya jadi bitter, Gapapa, ini proses.

Yang saya lakukan sekarang ya mendistraksi diri sendiri dengan menjadi lebih professional dalam pekerjaan (selagi ada kesempatan), berusaha memahami tumbuh kembang anak, dan berusaha menyelipkan confetti bunga di antara kehidupan rumah tangga yang membosankan. I am just trying my best in life. The life I ACTUALLY have.

Kebetulan pas baca postingan si Yud1 yang ini:

there are many things I learned by looking at people. for example, facades. so mundane, so ubiquitous, there were all facades of all kinds. enclosures. hearts hold secrets and uneasiness and pain. but, that’s okay too.

“you know, actually,” I remember someone saying, “most of the time, people are only trying their best in life.”

today I see many people. yesterday I met many people. none of them were perfect. nor am I. but that’s okay, too.

Saya langsung ketawa pas baca. Yeah, paham kok. Pretty much. *grin*

Cheers, buddy.

Cheers to life.

 

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Mrs Cold

  1. Tapi ya jeleknya, saya jadi makin gampang merasa bitter dan kesal kalo lihat orang lain tidak segitunya berusaha.

    Ini aku banget. 5.5 tahun kerja di bank dan usaha lumayan maksimal, selama itu juga kesal karena ngeliat orang lain santai-santai aja sementara kerjaanku ditambah terus. Suatu hari pernah tanya apakah mungkin tim lain juga kebagian kerjaan tertentu ketimbang dikasih ke aku semua, jawaban boss “but you’re a high performer compared to them, I don’t trust them as much as I trust you.” Kalau aku gila kerja, denger kalimat kayak gitu mungkin makin terpacu ya. Tapi aku udah super burn out & I was at the point of hating my co-workers… So I decided that no matter what happened, I should quit from my job (waktu itu mikirnya entah mau sekolah lagi atau kerja tempat lain pokoknya cabs dulu deh).

    Sekarang mau coba idup santai dikit sebelum balik ke
    dunia kerja dan jadi bitter lagi.. 😂

    *Curhat banget*

      • Sebenernya aku pingin balik Indo aja abis beres urusan di Urasa, tapi karena beberapa hal mungkin mau coba mau cari kerja di Jepang sekalian. Cuma yaaa takut stress, hahahaha. Apalagi kalau kerja di banking/finance, kapan bisa cuti dan jalan2nya deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s