Pengalaman Lasik (Part 2)

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang persiapan lasik, maka untuk tes kedua saya datang dengan lebih banyak informasi tentang lasik dan mata saya, juga bawa uang buat settling pembayaran.

Fyi, lasik yang saya pilih adalah VisuLasik, dan bukan ReLex. Setelah saya browsing-browsing, ternyata beberapa pengalaman bilang bahwa VisuLasik lebih optimal mengoreksi astigmatism, dimana astigmatism saya lumayan tinggi.

Kondisi mata saya saat itu adalah: mata kiri minus 2.5 dan astigmatisme 3.5, mata kanan minus 4.5 dan astigmatisme 1.5

Biaya yang saya harus bayar totalnya adalah JPY 332,800 (termasuk pajak, obat dan perawatan post-lasik, dan sudah dipotong diskon 10% promo). Saya juga mendapatlam garansi, yaitu jika diharuskan melakukan lasik dalam waktu setahun setelah lasik, maka biaya gratis. Jika dalam waktu 1-3 tahun, biayanya sebesar JPY 29,000(plus pajak) untuk dua mata. Dan jika dalam waktu 3 – 10 tahun, biayanya sebesar JPY 79,000 (plus pajak) untuk satu mata.

Harga lasik itu bervariasi ya, tergantung kondisi mata dan juga teknologi yang dipakai. Ini contohnya yang ada di page Nagoya Eye Clinic (maaf pakai bahasa Jepang) http://www.lasik.jp/cost/

Kebanyakan klinik mata biasanya memiliki garansi, tapi mungkin beberapa klinik tidak cukup detil menjelaskan di website. Ini yang saya suka dari Nagoya Eye clinic karena semuanya terpapar jelas. Saya juga diberi penjelasan bahwa pada dasarnya operasi lasiknya sendiri gratis (biaya jasa dokter gratis), yang perlu dibayar adalah perlengkapan dan obat-obatannya. Jadi kalau bisa, ketika konsultasi, hal ini juga perlu ditanyakan dan dipertimbangkan.

Pemeriksaan kedua berlangsung selama 2 jam. Lebih intensif dan lebih banyak dari yang pertama. Bedanya kali ini saya tidak ditetesi cairan pembesar pupil. Sesudah pemeriksaan, saya yang ditemani suami disuruh menonton video penjelasan persiapan Lasik. Berikut ringkasannya:

  1. Pada saat operasi, mata pasien akan dipakaikan alat yang gunanya menjaga agar mata tetap terbuka
  2. Pada saat operasi, saya akan diberikan bantal untuk dipeluk, sementara itu, mohon tidak banyak menggerakkan kaki ketika operasi berlangsung
  3. Pasien diharuskan untuk melihat ke arah cahaya hijau yang ada di mesin selama operasi berlangsung. Dan jangan melirik ke kanan dan kiri
  4. Larangan penggunaan makeup, krim wajah, parfum, turtle neck pada hari operasi.
  5. diberikan obat tetes mata yang harus diteteskan mulai dari 3 hari sebelum

Di akhir sesi, saya disuruh memilih kacamata pelindung yang akan nantinya dipakai selama seminggu pasca operasi. Jenis kacamata ini bermacam-macam sesuai dengan keseharian pasien. Karena saya sehari-harinya bekerja dengan PC, maka saya memilih kacamata yang khususnya mengurangi paparan blue light PC. Juga yang memiliki pelindung di sisi framenya sehingga meminimalisir kemungkinan debu masuk.

Pada hari H, sesampainya di klinik saya diminta menunggu sebentar. Selama menunggu, saya diberi pil untuk diminum. Lalu saya diantar ke ruangan operasi, dipakaikan baju operasi dan ditetesi anestesi mata. Sekali lagi mata saya diperiksa. Setelah waktunya tiba, saya dibawa ke ruangan operasi di mana ada dua alat dan saya harus berbaring. Pada alat pertama, selama 30 detik masing-masing mata dilakukan tindakan (sepertinya ini saat dibuat flap). Ini cepat sekali dan sama sekali tidak terasa sakit. Dan adanya cahaya hijau membantu sekali untuk mata kita tahu kita harus melihat kemana.

Sepanjang 30 detik itu, dokternya selalu memberi tahu prosesnya “30 detik, 20 detik, 10 detik lagi, 5 detik lagi, bertahanlah. Selesai”. Menurut saya ini bagus sekali karena saya jadi tahu berapa lama lagi proses ini akan berlangsung. Saat proses ini selesai, saya kira operasinya selesai. Ternyata oh ternyata tempat tidur saya digeser menuju alat berikutnya. Waktu saya tanya, “sekarang apa?”. Susternya jawab “sekarang, operasinya dimulai”

What? trus tadi apaan dong? hahahaha.

visumax02

VisuMax alat yang dipakai untuk prosedur lasik Visulasik. Gambar diambil dari website Nagoya Eye Clinic

Masih dalam kondisi rebahan, mata kanan saya dipasangi plester. Dalam kondisi ini saya masih bisa melihat dengan jelas. Plester dipasang di atas dan di bawah mata kanan untuk “membuka mata” ditambah saya dipasangi pengganjal mata. Mata kiri ditutup. Setelah itu operasi “sesungguhnya dimulai”. Yang saya tahu adalah mata saya disterilkan, diberikan anestesi lagi (dokter selalu bilang prosesnya), kemudian sesudahnya saya melihat banyak cahaya merah dan hijau. Dokter terus mengingatkan untuk melihat ke cahaya hijau. Setelah beberapa saat, dokter bilang kalau laser akan dimulai. “30 detik, 20 detik, 10 detik, 5 detik. Yak selesai”

Iya, hanya 30 detik saja dan SAMA SEKALI tidak terasa apa-apa! Cuma yang bikin saya agak trauma adalah saat dilaser itu saya bisa mencium bau benda terbakar! Walau cuma 30 detik tapi bikin parno juga..huhu. Ditambah lagi selama 30 detik itu saya melihat berbagai macam sinar dan situasinya agak bikin ndredek. Insting manusia saat melihat hal yang bikin ga nyaman adalah memejamkan mata, kan? Nah karena mata diganjal jadi ga bisa (ga boleh juga, sih). Jadilah saya “dipaksa” menikmati sensasai melihat berbagai sinar warna dan kegelapan tersebut.
Jadi sebenarnya ini yang saya maksud dengan sedikit trauma dari lasik. Bukan sakitnya, karena alhamdulillah saya sama sekali tidak merasa sakit selama proses lasik berlangsung. Mungkin karena ga ada yang pernah cerita ke saya bagaimana exactly ketika proses berlangsung jadi saya ga ada persiapan dan bayangan akan seperti apa.

maxresdefault

Mungkin kira-kira begini yang saya lihat. Tapi warna merah dan oranye mendominasi. 

Anyway, ketika mata kiri dilasik, saya sudah tau what’s coming, jadi lebih siap mental. Prosesnya sama, sebelum dilasik asisten dokter utama membacakan profil saya dan profil mata saya. Setelah mendapat persetujuan dari dokter, lasik mata kiri pun dimulai. Setelah selesai saya dibawa keluar ruangan operasi, diperbolehkan membuka mata. Dan tetap tidak sakit sama sekali, saat itu alhamdulillah masih bisa melihat, tapi penglihatan masih seperti berkabut.

Saya disuruh istirahat di sofa nyaman di ruangan yang temaram, beberapa kali ditetesi obat mata dan disuruh memejamkan mata dan rileks selama 15 menit.

Setelah 15 menit, saya ditetesi obat mata kembali dan ditemani suster berjalan kembali ke ruang tunggu menemui suami saya. Saat itu saya merasa penglihatan saya membaik dari sebelumnya. Bedanya adalah agak sedikit berkabut.

Setelah bertemu suami, saya diminta memakai kacamata proteksi yang saya pilih seminggu sebelumnya. Saya diberi resep 4 jenis obat tetes yang salah satunya harus ditetesi setiap sejam sekali sampai checkup keesokan harinya, diberi kacamata goggle yang bentuknya mirip kacamata renang yang nantinya dipakai saat tidur, saya juga diberi painkiller kalau-kalau butuh. Sejak saya dibawa ke ruang operasi sampai kembali bertemu suami, total waktunya sekitar satu setengah jam. Jadi memang cepat sekali.

Sebelum pulang suster memberi tahu beberapa pantangan untuk malam itu:

  1. Dilarang berendam air panas (ofuro)
  2. Dilarang mencuci muka
  3. Dilarang main PC, handphone, nonton TV sampai 2 hari berikutnya
  4. Dilarang pakai makeup/krim wajah
  5. Dilarang berolahraga
  6. Pakai terus kacamata pelindung serta goggle saat tidur
  7. Dilarang mengusap, menggosok, menyentuh mata dengan tangan langsung (diberikan tisu basah khusus)
  8. Dilarang keramas

Sepanjang jalan menuju rumah, barulah terasa ada stinging sensation di kedua mata saya, seperti kalau kelilipan. Tapi tidak sampai sakit segitunya sih. Terutama setelah ditetesi obat mata yang tiap sejam sekali itu, obat mata itu rupanya anti-inflamasi dan alhamdulillah banyak membantu.

IMG_0784[1]

4 jenis obat tetes mata. Selain yang abu-abu, semuanya ditetesi 4 kali sehari (pagi, siang, malam, sebelum tidur)

Di rumah saya berusaha banyak beristirahat, memejamkan mata memang paling nyaman. Tapi kadang gatel juga pengen buka hape, nonton TV, dsb. Karena memang rasanya seperti tidak habis operasi. Walau ada sedikit discomfort, tapi tidak terlalu terasa. Penglihatan saya malam itu sudah jauuh lebih baik. Pandangan sudah tajam, sudah bisa mengenali wajah orang lain padahal dulu kalau tanpa kacamata akan blurr.

Sekian postingan part 2, untuk check up pertama sampai 7 hari pasca lasik saya lanjut di postingan berikutnya ya (itu juga kalau masih ada yang mau baca, hehe)

Advertisements

Pengalaman Lasik (Part 1)

Beberapa waktu lalu saya posting di laman fesbuk mengenai pengalaman singkat saya 3 jam sesudah lasik. Semoga tulisan ini membantu teman-teman yang mempertimbangkan lasik..

Lasik sendiri adalah refractive surgery yang bertujuan mengoreksi kelainan mata myopia (yang lebih dikenal sebagai minus), hyperopia(plus) dan astigmatism(silinder). Dengan menggunakan femtosecond laser, sebuah flap dibuat  di kornea untuk nantinya kornea akan disinari dengan laser untuk mengoreksi kelainan mata tersebut. Flap kemudian ditutup kembali dan prosedur pun selesai. Terdengar simpel ya? Dan kenyataannya memang prosedurnya cepat, kok. Terutama dengan teknologi yang makin berkembang sehingga prosesnya pun menjadi lebih cepat dan lebih akurat.

lasik-02

Proses lasik. Gambar ini diambil dari Jakarta Eye Center.

Jadi kenapa saya memutuskan untuk menjalani prosedur lasik?

Pertama karena saya capek pakai kacamata. Saya sudah memakai kacamata sejak SD kelas 6. Minus saya waktu itu tidak terbilang tinggi, tetapi seiring berjalannya waktu, silinder saya ikut memburuk. Saya sudah memiliki keinginan menjalani lasik sejak SMA Waktu itu jelas pilihan lasik hanya angan-angan karena harganya tidak terjangkau untuk anak SMA seperti saya.
Ketika saya mulai magang, atasan saya mengaku kalau dia baru lasik setahun lalu dan itu merubah hidupnya. Saya pun jadi teringat kembali keinginan yang lama. Kemudian sejak itu berikrar untuk mengumpulkan uang untuk lasik. Jadi memang keputusan lasik bukan hal yang tiba-tiba, sih. Penuh pertimbangan yang panjang (dan nabung! lol).

Kedua, Waktu saya pergi cek kondisi mata apakah mata saya sesuai untuk menjalani lasik, saya diberi tahu bahwa dengan kondisi mata saya saat itu, saya cuma boleh memakai lensa kontak selama 6 bulan ke depan saja. Sebabnya karena kondisi mata saya yang kering dan  sudah kurang bagus (saya lupa penjelasan detilnya). Jadi pilihannya adalah lasik atau memakai kacamata seumur hidup. Soalnya lensa kontak sudah tidak bagus lagi dipakai.

Ketiga, banyaknya restriksi karena kacamata. Seperti misalnya mau renang, onsen, nonton film 3D, dan banyak lagi lainnya. Ditambah udah punya anak, kacamata sering ditarik-tarik bocil pas gendong dia.

Pre-Lasik preparation

Pertama adalah menentukan mau lasik di klinik yang mana dengan mempertimbangkan banyak hal seperti reputasi klinik, review orang lain, teknologi yang digunakan, juga harga dan budget. Karena saya tinggal di Nagoya, opsi yang saya punya lebih terbatas daripada kalau tinggal di Tokyo. Ada dua klinik yang menjadi pilihan, yaitu Nagoya Eye clinic dan Shinagawa Eye clinic cabang Nagoya. Dari segi harga, memang Shinagawa Eye clinic sedikit lebih murah, tapi saya kemudian mempertimbangkan lokasi dan juga teknologi alat lasik yang digunakan. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Nagoya eye clinic dulu.

Tahapan pertama setelah datang ke klinik adalah untuk memeriksakan kondisi mata apakah cocok untuk menjadi pasien lasik. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti usia, kondisi ketebalan kornea dan lain-lain.

Proses ini gratis dan tidak dipungut biaya sama sekali, memakan waktu sekitar 2 jam. Di akhir tes saya diberikan penjelasan mengenai hasilnya. Di sini lah saya tahu bahwa kondisi mata saya sudah kurang bagus lagi untuk terus memakai lensa kontak. Juga diberi penjelasan soal prosedur lasik, ekspektasi kondisi mata setelah lasik.

Ibu suster yang menjelaskan kepada saya berusia sekitar 40 tahun dan fasih berbahasa inggris. Menyesuaikan dengan hasil tes, pilihan lasik saya ada dua: VisuLasik dan Relex Smile. Relex smile adalah metode yang lebih baru, flap tidak perlu dibuat seperti lasik, hanya perlu menyayat kornea 2mm. Jadi untuk yang matanya kering, lebih bagus ReLex karena kornea tidak banyak “dirusak”. Pemulihannya pun lebih cepat. Sebelum memutuskan antara VisuLasik dan Relex, saya bertanya kepada ibu susternya:

“Jika anakmu memiliki kondisi mata seperti saya sekarang ini, akankah kamu merekomendasikan anakmu untuk menjalani lasik?”

Ibu suster itu lumayan terkejut juga mendengar pertanyaan saya yang tricky. Akhirnya beliau menjawab dengan jujur “Karena kamu punya silinder yang cukup tinggi, lasik tidak akan bisa 100% mengoreksi ini. Maka saya akan merekomendasikan prosedur lain. Tetapi, prosedur tersebut harganya dua kali lipat dari harga lasik. Jadi kembali lagi dengan kebutuhan dan kondisi kamu. Yang saya bisa katakan adalah, walau mungkin silinder kamu tidak bisa hilang 100%, tapi lasik akan membantu kamu sehingga kamu tidak perlu memakai kacamata kembali,”

Saya menghargai sekali kejujuran ibu suster ini dan menganggap jawaban beliau cukup memuaskan. Di akhir sesi penjelasan di mana saya bertanya banyak sekali, seperti kemungkinan terburuk, garansi setelah prosedur, cabang klinik lain di luar negeri kalau suatu saat saya pindah, profil dokter, alat yang digunakan, dll. Yang membuat saya makin mantap dengan Nagoya Eye Clinic adalah ibu suster itu menjelaskan dengan sabar tanpa ada rasa pressure untuk saya menjalani lasik di klinik itu secepatnya. Padahal saya baca-baca pengalaman orang lain di klinik lain, ada yang susternya/dokternya seperti terkesan memaksa atau menekan pasien untuk lasik dalam bulan berikutnya.

Sebelum saya pulang, suster itu bilang “tolong pikirkan baik-baik jika memutuskan untuk menjalani lasik, baik keuntungan dan resikonya. Jangan terburu-buru dalam memutuskan. Kalau perlu riset lebih banyak lagi biar mantap.”

Oya, dalam tes pertama itu, mata saya ditetesi obat yang memaksimalkan kelebaran pupil (kalau ga salah), efeknya adalah cahaya yang masuk jadi banyak ke mata dan bikin penglihatan agak missed walau sudah pakai kacamata. Karena itu, tidak disarankan untuk menyetir, naik sepeda setelah tes ini. Bahaya! Besoknya sudah pulih seperti sedia kala sih.

Tahap kedua seharusnya adalah pemeriksaan kedua. Pemeriksaan ini dilakukan seminggu sebelum hari H lasik. Ditujukan untuk mengecek kondisi mata lebih dalam dan apakah hasilnya stabil dengan hasil pemeriksaan sebelumnya. Saya periksa pertama itu bulan Oktober. Waktu itu pingin banget bulan depannya periksa kedua tapi ternyata kerjaan ga bisa ditinggal karena menurut ibu suster, kalau mau lasik, pilihlah hari dimana kita ga harus travelling paling tidak seminggu setelah lasik, atau membutuhkan kerja mata yang keras dalam sebulan ke depan (misal dikejar deadline). Karena bulan Desember saya bakal sibuk sampai April, akhirnya keputusan untuk lasik pun ditunda sampe April.

Akhirnya saya membuat jadwal untuk tes tahap kedua sekaligus jadwal lasiknya. Beberapa pertimbangan sebelum memutuskan hari H lasik:

  • Pilih waktu di mana kerjaan lagi ga numpuk sehingga ada waktu untuk pemulihan paling tidak seminggu pertama setelah lasik
  • Setelah lasik, ada beberapa pantangan seperti ga boleh olahraga berat, pergi ke tempat berdebu, berenang, makeup mata, dll. Pilih waktu di mana ga ada keharusan untuk travelling, olahraga, atau meeting penting yang mengharuskan pakai make up lengkap.
  • Persiapkan dan sesuaikan dengan jadwal orang lain di sekitar kita pada hari H. Misalnya kalau punya anak, siapa yang bisa menggantikan pegang anak, atau siapa yang bisa mengantar ke rumah sepulang dari lasik, dll
  • Preferably lasik dilakukan di hari Jum’at agar pasien ada waktu untuk istirahat di rumah selama dua hari sebelum kembali ke kantor lagi.

Sekian tips-tips dari saya, selanjutnya dilanjut di postingan berikutnya, ya!

Eid Mubarak!

Lebaran tahun ini cukup menyenangkan, setidaknya ga sesuram, sepi dan gloomy kaya tahun lalu. Apalagi tahun lalu ga ikutan puasa, bener-bener ga terasa lebaran sama sekali. Untungnya masih ikut sholat Ied, jadi masih agak ada hawa-hawa lebaran.

Tahun ini malah saya ga kedapetan sholat Ied karna bangun2 si merah datang. Tapi tetep seneng sih bisa kumpul sama temen-temen seiman di tempat sholat, trus dateng ke kantor dan dikasih ucapan selamat juga.

Jadi buat kalian yang merayakan bersama orang-orang tersayang, berbahagialah!

Momen yang adanya cuma sekali setahun ini bener-bener harus disyukuri dan diresapi. Jangan sampe taken for granted lah.

IMG_2639[1]

Reika juga hari ini 1 tahun 3 bulan! Bener-bener cepet banget waktu berlalu. Tahun lalu masih digendong2 dan dia baru belajar tengkurep, sekarang udah bisa lari-lari pengen ikutan main sama anak-anak lain di tempat sholat. Gemes!

Selamat idul fitri ya semuanya!!!

 

AADC2 Mixed Feelings

Gapapa ya baru nulis tentang ini sekarang? Soalnya baru bisa nonton dan ga tahan buat ga rant-ing. Ini penuh spoiler btw.

Sesuai judulnya, saya merasa ini film bikin perasaan nyampur aduk- seneng, suka, bete, kecewa.

Pertama-tama harus dijelasin kalo saya 100% memuji akting dari seluruh pemain, kecuali kenyataan kalo somehow saya ngerasa temen-temennya Cinta kurang dieksplorasi lagi, this movie feels like it`s only about Cinta and Rangga, which is not entirely wrong.

Akting, penghayatan, alur cerita, dialog, semua tjakep. Saya suka.

Jalan ceritanya bikin baper banget. Semua yang pernah punya cinta dan luka masa lalu mungkin bisa relate. Bener-bener bikin hati nostalgia kemana-mana.

Masalah muncul saat 15 menit terakhir. Pokoknya pas Rangga udah nyampe Bandara. Di sini saya mulai benci banget sama film ini.

Waktu Cinta menolak Rangga di galerinya, buat saya ini adalah keputusan yang walau berat, tapi sangat masuk akal. Iyalah, gila aja throwing 9 years of struggling to get over the guy who hurt her the most over a one-night journey? Gila aja mutusin tunangan yang mungkin udah tumbuh bareng kita, udah selalu ada di samping kita, udah stood by us through hell and back, demi seseorang yang datang dari masa lalu trus ngemis balikan. Gila aja mutusin hal kaya gini cuma dalam beberapa hari (atau minggu?)!

I think almost all of us have that one person in the past who touched our heart for the first time, whom we learned what love is. Mungkin kita semua pernah punya satu orang yang kalau kita ingat bawaannya jadi mellow, kalo kita denger lagu tertentu langsung mendung karna ngingetin kita sama dia dan luka masa lalu, yang kadang di tengah-tengah ketawa dan senang-senang kita tiba-tiba diem karena keselip kenangan lama? Persis Cinta waktu lagi bareng-bareng temen-temennya, tiba-tiba menerawang.

Iya, persis gitu.

Tapi bukan berarti jugaaaa, kalo orangnya muncul di hadapan kita, trus kita rela balikan sama dia. Bukan berarti jugaaaa, kita emang bener-bener pengen sama dia. Ga gitu juga kali.

Yang pernah patah hati berat pasti paham kalo move on itu berat. It takes months, maybe years. It shows you hell before it gets better. Dan lo melakukan ini semua mostly SENDIRIAN. Mungkin dengan support temen-temen, orang tua, saudara, dan doa yang ga putus kepada Tuhan untuk dikasih kekuatan. But you did it because you know you need to.

Trus ga masuk akal aja kalo udah usaha mati-matian segitunya buat bangkit lagi, buat percaya bahwa you better off without him, buat nemuin diri sendiri lagi, buat belajar memaafkan dia dan berdamai dengan diri sendiri yang marah. Ketika kita ketemu lagi sama orang itu, penjelasan apapun yang dikasih, does it even matter? It doesn`t.

Because after years of learning to live with the new reality, it doesnt matter why he left. It doesnt matter why he did what he did, and it certainly doesnt matter if he wants to be back on our life! Ga penting lagi dia mau bilang dia bikin kesalahan besar dengan nyakitin kita, ga penting lagi sekarang dia kaya apa, dan yang jelas ga penting lagi apa dia masih ada feeling sama kita atau ga, karena apa? Karena dia udah ga relevant lagi dalam hidup kita yang sekarang, dalam hidup kita yang bertahun-tahun kita bangun tanpa dia.

So, plis deh Cinta. Lo boleh baper ketemu mantan lo yang masih charming. Lo boleh mellow galau. Bahkan lo nyium dia itu walaupun salah tapi masih bisa dimaafkan karena kebawa suasana.

But life is moving on, girl. What happened on that vacation stays there. It was fun, we get it. But that was not your real life.

Ya elah Cinta, pinteran dikit napa sih?

 

Marshanda, Instagram dan Haters Gonna Hate

Panjang aje si judul. Gapalah, lagi iseng pengen nulis. Lagi ruwet pikiran soalnya.

Jadi akhir-akhir ini saya lumayan aktif beredar dan kepo-in instagram realm. Dulu suka kepikir di Instagram ada apaan sih? Taunya BANYAK banget!

Netizen Indonesia itu kreatif banget lho, selain fungsi basic IG yaitu pamer dan sharing kehidupan IG user (ups), mereka bisa juga jualan di IG, curhat, bikin video music, mini video, sampe nge-bully artis kesayangan pun jadi.

Kali ini mau ngebahas soal Marshanda. Saya bukan hater ataupun lover dia ya. Follow IG nya juga enggak. Suka nyiyir kadang-kadang kalo liat dia posting yang agak gimana-gimana gitu. Tapi selain itu ya biasa aja. Dahulu kala sebelum dia nikah sama Ben (trus cerai), dia sempet bikin heboh orang-orang dengan video “gila”-nya di Youtube. Yang merong-merong, mekong-mekong sama joget-joget (marah-marah, maki-maki). Video itu langsung viral, Marshanda pun kemudian terkenal sebagai artis yang “gila” atau punya masalah kejiwaan.

Nah, stigma ini muncul lagi ketika dia mulai copot jilbab, minta cerai, drama sama ibunya, trus….unggah video joget-joget di IG. Ketebak yes? Dia kena bully haters dibilang “gila” lagi. Ngakunya dia sih dia emang hobi melepas tekanan batin dan have fun lewat joget-joget sama temen-temennya. Ga perlu clubbing, ga perlu minum alkohol, cukup joget-joget di rumah. Inosen, kan?

Bagi yang belom pernah melihat videonya sendiri, mungkin bisa liat ini contohnya:

https://www.instagram.com/p/BG38sTfpw3C/?taken-by=marshanda99&hl=id

😂😝 cc. @rezerdewi

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ MARSHANDAさん(@marshanda99)が投稿した動画 – 2016 6月 20 4:13午前 PDT

 

Kalo saya mah bilangnya ini 100% inosen. Dalam artian, dia emang bener bahwa dia sober, pake baju yang decent, dan konten bahasanya juga ga bermasalah.

Kenapa, sih video joget-jogetnya mesti diupload di public?

Alasan pastinya tentu cuma dia dan Tuhan aja yang tahu. Tapi kalo kita merujuk dari paper ini, alasan orang sharing emosi-nya, terutama yang negatif, adalah untuk melepas stress, depresi, dan trauma. Jadi mungkin kalo Marshanda bilang dia pengen melepas stress dengan joget-joget, dia ga bohong. Kenapa mesti diupload? Mungkin dia belom merasa bener-bener lega dan butuh merasa lebih “lepas” lagi dengan menggunggahnya. Mungkin awalnya dia gatau kalo orang ternyata bakal salah paham.

Kalo emang beneran inosen dan normal, kenapa orang-orang jadi mandang negatif?

 

Karena haters gonna hate. lol.

I wish it is that simple.

No, serious. I wish I can take side 100% with Marshanda, but sorry I am not sorry.

Kaplan dan Heinlein (2010), membuat tabel klasifikasi tipe social-media dilihat berdasarkan dari self-perception dan media richness-nya:

kaplan.jpg

Self-presentation sendiri menggambarkan bagaimana seorang user memiliki kontrol akan impresi orang-orang terhadap dirinya yang dibentuk dari sebuah interaksi di dalam socmed. Nah, self-perception si user ini terbentuk berdasarkan dari seberapa banyak informasi yang, secara sadar atau tidak, dia beberkan di dalam interaksi tersebut (self-disclosure). Media-richness sendiri adalah teori yang dikembangkan oleh Daft dan Lengel (1986) yang mengevaluasi dan mengklasifikasi jenis medium of communication berdasarkan seberapa sedikitnya ambiguitas, uncertainty dan misunderstandings dalam menyampaikan sebuah informasi. (Maaf ya bahasanya nyampur-nyampur gini). Semakin sedikit uncertainty dan ambiguitas yang dihasilkan dalam sebuah komunikasi menggunakan medium tersebut, makan semakin “rich” lah dia. Contoh gampangnya, face-to-face communication akan meminimalisir adanya ambiguitas, uncertainty dll ketimbang  komunikasi melalui email. Karena faktor-faktor yang absen dalam komunikasi tertulis seperti ekspresi wajah, tone suara, immediate responsiveness, dll.

Nah, kalo merujuk ke table di atas (dan full papernya, disini), persepsi netizens Indonesia terhadap Marshanda “gila” kebanyakan diambil melalui media video baik di youtube dan Instagram. Meskipun media-richnessnya medium, tapi self-perception/self-disclosurenya rendah. Jadi memang sulit bagi Marshanda untuk mengontrol reaksi dan impresi masyarakat terhadap video joget-joget yang dia buat. Selain itu, karena media yang dia pakai adalah video dengan durasi terbatas, tanpa narasi (atau meski dengan narasi sekalipun yang tampaknya tidak membantu sama sekali di kasusnya dia), jadinya impresi orang terhadap dia yang “stress” pun makin menjadi-jadi. Padahal siapa tau setelah joget-joget itu, dia matikan kamera lalu  wudhu dan shalat khusyuk.  Jadi adanya bully-bully ini bukan cuma pengaruh haters gonna hate, itu juga sih, tapi juga karena Marshanda yang kurang bijak memilah informasi untuk ditampilkan, kurang gape membuat self-presentation, plus memilih media yang salah. Sehingga orang yang tadinya biasa aja sama dia, melihat video joget-joget itu juga jadi merasa “there`s something wrong about her” -walau mungkin dipikir-pikir, not necessarily so.

Nah, orang-orang udah terlanjur memandang negatif. Kok masih aja upload lagi? 

Okay, maybe she just wanted to take her pressure off by dancing with the music on, and that is pretty normal and innocent. But why she still uploaded it for public to see while consciously aware that people will judge her in negative way? Apa dia emang sengaja membuat imejnya sedemikian rupa?

Bisa jadi, sih. Dia selalu meng-klaim dirinya sendiri sebagai orang yang jujur terhadap dirinya sendiri. Mungkin imej inilah yang dia pengen tunjukkan ke orang-orang sehingga dia memutuskan bahwa joget-joget di video itu bukan sesuatu yang memalukan, tapi justru cara dia buat jadi jujur sama diri sendiri. Alasan seseorang membeberkan informasi tentang dirinya ke publik itu bisa bermacam-macam, sih. Dan meskipun teori tentang ini juga ada, tapi pada akhirnya ya beneran cuma dia sendiri aja yang ngerti alasannya. Jangan-jangan dia cuma iseng, jangan-jangan itu cry for help, jangan-jangan buat cari sensasi doang, atau jangan-jangan dia pengen ngajarin ke orang lain kalo mau have fun gampang aja, joget-joget aja trus upload di instagram.

Yang jelas apapun itu, kalo diliat dengan kacamata netral memang video yang dia unggah ga segitu “gila”nya, malah cukup inosen buat saya. Spare her on this part at least. Tapi yaaa mungkin kalo sekedar buat ngelepas stress, mending cari cara lain aja kali yeee. Soalnya kalo gara-gara itu jadi punya banyak haters trus jadi dibully terus, apa ga malah tambah stress?

 

Additional readings:

https://en.wikipedia.org/wiki/Media_richness_theory

http://info.ils.indiana.edu/~herring/teens.gender.pdf

http://website.education.wisc.edu/prsg/wp-content/uploads/2015/02/Liu-2014-Self-disclosure-on-SNS.pdf

 

 

 

 

 

Doki-Doki Juli

Gaya banget deh pake doki-doki. Maksudnya mah deg-degan banget ini mendekati bulan Juli. Karena bakal pertama kalinya ninggalin Reika selama seminggu penuh. ASIP sih udah mulai dikumpulin, visa, hotel dan tiket penerbangan udah booked, tinggal nyiapin tekad aja sanggup apa gak nih mau ninngalin si BOcil cuma berdua sama ayahnya aja.

Akhir-akhir ini Reika makin nempel tiap malem. Posesif banget ama nenennya. Bikin tambah galau apa bisa dia ga nenen dulu selama seminggu? Oh sungguh aku tak tau.

Bismillah aja deh. Semoga ilmu yang didapat selama pergi seminggu bisa berkah dan berguna bagi banyak orang nantinya. Aamiin.

Semangat, sih!