First Birthday

  Alhamdulillah, this sweet pea of mine is now 1 year old. Seeing how much she has grown is really an honor. Being able to share life with her for a year is really a blessing. 
Dear Reika, besok mama mulai kerja. Setengah hari dulu sih, tapi somehow berangkat kerja terasa seperti…apa ya, lembaran baru dalam perjalanan kita. Mama mulai kerja, kamu mulai di daycare. 

Ke depannya pasti tidak selalu mudah, tapi kita pasti belajar banyak hal dari sini. Ya mama, ya kamu. 

Dear Reika, dua hari pertama kamu di daycare mengiris hati mamamu yang sok tegar ini. Kamu nangis terus. Menolak untuk makan. Kamu yang biasa ceria lincah kesana kemari berakhir dengan mata bengkak karena kebanyakan menangis. Mamamu sedih. Kepikiran. 

Sempat terpikir oleh mama apakah keputusan untuk melanjutkan bekerja adalah keputusan yang terbaik. Apakah sebaiknya mama di rumah saja dengan Reika? Apa mama bisa menjadi working mom yang sigap sekaligus perhatian kepada Reika? 

Jawabannya mama juga belum tau, nak. Maafin mama ya kalau mama tidak bisa janji apa-apa. Tapi mama berusaha sebisa mama melakukan yang terbaik. 

Kalau kamu bertanya apa menurut mama memasukkan kamu ke daycare adalah keputusan yang baik untuk Reika? Mama akan dengan yakin menjawab “ya!”. Tapi kalau kamu tanya apakah itu keputusan yang benar, mama tidak bisa menjawab. Karena mama tidak tau apa yang benar dan salah dalam parenting nak. Yang mama tau, kamu memang butuh daycare, bahkan jauh lebih daripada mama butuh kamu di daycare. Kamu bisa berinteraksi dengan orang lain, belajar banyak hal, belajar mandiri, juga bermain sepuas kamu! Tidak lagi hanya sebatas kamar tidur kita yang hanya sepetak itu. Mama senang lihat kamu tertawa, berjalan, dan pada waktunya nanti berlari. Dan mama yakin dengan masuk daycare selama mama bekerja, kamu bisa mendapatkan waktu yang cukup untuk bermain, dan kemudian insya Allah waktu yang cukup untuk berada di pelukan mama. 

Sayangku Reika, kita sama-sama berusaha ya nak. Maaf telah memintamu bersabar dan mengerti di usiamu yang baru setahun. Mama harap apa yang mama lakukan ini bisa membawa kebaikan untuk kita semua. Mendewasakan kita, membahagiakan kita, mendekatkan kita. 

Sekali lagi, selamat ulang tahun Reika Adzkia Yusahrizal. Doa mama yang tidak bisa mama sebutkan satu persatu selalu teriring untukmu. Yang paling penting, mama sayang Reika ya, nak. 

Semangat ya, Reika. Besok mau mulai makan ya! 

  

Advertisements

“I Love You”, is it Important to Say? 

Minggu lalu ngobrol-ngobrol dengan seorang teman. Dia cerita kalo suami mutual friend kami tiap hari pasti telpon istrinya untuk mengungkapkan rasa cinta, padahal mereka menikah sudah cukup lama dan dikaruniai 4 orang anak. Sementara itu teman saya sekalian curcol kalo suaminya jarang bilang “I love you”. 

Situasi saya sendiri sih hampir tiap hari selalu bilang minimal “Love you” kepada suami atau sebaliknya. Biasanya sih sebelum pisah berangkat kerja. Kadang terasa cuma sebuah rutinitas kaya bilang “assalamualaikum”. Ini bikin saya mikir, pentingkah bilang “I love you” atau “Aku sayang kamu” kepada pasangan setiap hari? 

Menurut saya pribadi sih penting ga penting. 

Ga pentingnya karena ya itu tadi, keseringan jadi kadang bikin 3 powerful words itu jadi kurang romantis, kurang powerful. Kadang diucapin sambil lalu. 

Namun demikian, saya tetep merasa bahwa kebiasaan ini penting dilakukan supaya pasangan ga lupa gimana caranya mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Emang sih cinta itu ga cuma diumbar dengan kata-kata romantis doang, tapi namanya cewek kadang pengen sekali-sekali digombalin, disanjung dan dibuai dengan rangkaian kata puitis *cailah*. 

Ini serius, kadang kalo kita lagi down atau insecure, kata-kata dari pasangan adalah sesuatu yang menenangkan. Apalagi bonus peluk. 

Nah, masalahnya kalo kita terlalu lama ga mengungkapkan rasa cinta melalui kata-kata, takutnya jadi lupa caranya. Emang bisa lupa? Kan cuma tinggal ngomong? 

Bisa banget lho. Lupa di sini dalam artian gatau kapan mesti bilang, atau gimana caranya bilang tanpa ngerasa gengsi. Nah yang terakhir itu biasanya yang paling sering kasusnya. Saya berkaca pada keluarga saya sendiri ya (orang tua dan adek kakak). Keluarga saya tuh bukan tipe yang suka mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Segitunya sampai kalo tiba2 ada anggota keluarga yang begitu, bakal terasa….canggung. 

Padahal apa sih salahnya bilang “sayang ibu ya” atau “gue sayang lo, dek”. Yang dikasih ucapan itu juga pasti seneng kan? Tapi itu dia, karena ga dibiasain untuk memulai, dan menerima kata-kata tersebut, akhirnya kalo tiba-tiba saya bilang gitu ke orang tua, mungkin mereka akan mikir kesalahan apa yang saya barusan bikin sampe sok manis begitu, haha. 

Itulah sebabnya saya dan suami ngobrol dan sepakat untuk membiasakan diri kami (juga melibatkan anak), untuk sering mengungkapkan perasaan positif dengan bebas. Seperti peluk cium, bilang “sayang kamu ya Reika” atau “love you, beb” atau “I’m proud of you, honey”. Pokoknya selama itu positif gapapa ditunjukin. Termasuk juga permintaan maaf dan mengakui kalo salah. Ini juga harus dibiasakan.

Mudah-mudahan sih kami konsisten. Hehehe

Fly

Dear Reika, 

This is maybe too soon for me to say this,

But I have a strong feeling that you will be someone who enjoys adventure, challenge and loves travelling. You will love meeting new people, new culture, and new environment. You will go to many places and try different types of cuisines. You will fly. 

If you happen to be the person I just mentioned earlier, please know that I am happy for you. Although I might have to hold my tears back whenever I take you to the airport, although I might counting days waiting for you to come back, although I might miss days we are eating on the same table and talk about stuffs, although I might bother you and calling you often. 

Don’t worry, baby bear, as much as i want to always keep you in my arms, I want to see you fly and enjoy your life to the fullest (of course still within our religion’s border, ok?). 

Ever since you are born, you always love new people, you love being surrounded by your family, friends, teachers, you just love them. You love moving, you enjoy playing, and just want to explore everything. 

And that’s when i know I should prepare myself if one day you would say confidently that you want to go study abroad, or work in another country. That’s when I understand that you are not meant for us to always hide and keep for ourselves, you are meant to fly. You are meant to fly and see the sky high, smell the ocean. We will be always here no matter far you go. We will be here and waiting for your new exciting stories. 

So dont worry about us, dont worry about me. 

Fly Reika!

Kenapa Harus “Dandan”? 

Akhir-akhir ini saya lagi semangat “merombak diri”. Ya ga rombak-rombak amat sih sebenernya. Cuma mencoba sedikit jadi lebih rapih. Biasany saya itu cueeeekk banget sama penampilan. Kerudung pake bergo ibu saya, baju asal nyaman dan ga peduliin model, sepatu apalagi! Jadilah penampilan saya itu alakadarnya. Makeup apalagi. Udah keluar rumah pake bb cream aja udah alhamdulillah. Ngantor pun saya gitu lho. Untungnya kantor bukan yang jenis mengharuskan dandan segala macem. 

Begitu saya melahirkan, makin parah kemalasan saya memperhatikan penampilan. Apalagi ditambah kemana-mana bawa anak yang digendong dan dikit-dikit pengen nyusu. Baju pasti asal pake yang ada, makeup? Byebye. Pokoknya saya kumus-kumus banget! Sampe sempet ga pede kalo mau difoto, akhirnya yang difoto ya anak terus berhubung ibunya kumel bin kucel. Pokoknya dibalik foto anak imut ada ibu yang dasteran dan belom mandi seharian haha. 
Pas Reika 8 bulan dan balik ke indonesia, PND saya mulai berkurang dan semangat mengurus diri sendiri saya mulai balik. Saya sadar bentar lagi mulai kerja dan saya pengen berubah. Saya pengen keliatan “act together”. Maksudnya ga keliatan berantakan dan ga keurus. Walau mungkin banyak yang belom keurus, minimal orang ga mesti liat trus nge-judge lah haha. #insecure 

Alasan lainnya adalah, saya ga mau anak saya dijadikan kambing hitam atas ketidak rapihannya saya. Atas ketidakbisaannya saya ngurus diri sendiri. Wong Reika itu bayi yang bisa dibilang ga merepotkan, ga rewel, ga clingy, ga nangis jerit2 tantrum dimana-mana. Beneran! Reika selama ini cukup manis kok, cuma akan rewel kalo dia laper, sakit, ngantuk atau pengen nenen. Jadi sebenernya kalo saya kumus-kumus ya itu salah saya sendiri. Dan saya ga mau memberi kesempatan buat diri saya untuk menyalahkan Reika suatu hari nanti kalo saya nyesel kenapa ga pernah nyoba fashion terkini atau ga tau bedanya lipen matte sama bukan matte (apaan sih namanya yang bukan matte? Hahaha). 

Nah maka dari itu saya lagi belajar nih untuk merapikan diri. Mulai dari penampilan sendiri. Mudah-mudahan berlanjut ke rumah dan juga kerjaan. 

Bismillah….

Punya Anak Kedua, Baiknya Kapan?

Biasa banget gak sih jadi orang Indonesia yang hidup dalam kebasa-basian, semua orang tampaknya kepo dengan kehidupan orang lainnya. 

Pas masih single ditanya mana pacarnya, pas pacaran ditanya kapan nikah, pas nikah ditanya kapan momong anak, eh baru juga lahiran udah ditanya kapan punya anak kedua! Ya Allah, capek! Walaupun ya emang sih kadang pertanyaan begitu enggak bener-bener serius, tapi rasanya tetep aja mengusik batin. Apalagi kalau yang ngejar-ngejar pertanyaan semacam ini adalah orang tua atau keluarga, ya. (Alhamdulillah orang tua saya dan mertua ga giniii). 

Alhamdulillahnya buat saya yang tinggal jauh dari kampung halaman adalah bebas pertanyaan seperti itu. Sampai kemaren selama liburan di indo dan ketemuan sama temen-temen. Pertanyaan basa-basinya udah jelas “apa kabar? Gimana Jepang? Asik ya tinggal disana…blablabla…eh kapan nih Reika dikasih adik?” 

Wow, ujung-ujungnya pasti kesana. Ketika saya akhirnya menjawab jujur kalau masih nanti-nanti, soalnya masih capek banget ngurus satu anak, balasannya pasti “biar sekalian capeknya lho!” 

Sebagai ibu yang ngurusin rumah (dan nantinya akan bekerja) hanya berdua saja bareng suami tanpa pembantu atau orang tua yang bisa dititipin anak, akoh rasanya mau lompat dari jembatan aja pas denger kalimat itu. Bukan apa-apa, ngurus satu anak aja bikin saya terkaget-kaget dan sempet depresi. Mau ditambah satu lagi biar “sekalian capeknya”. Ini sungguh konsep yang salah menurut saya! Lha kalau jadi capek dan ibunya ga bahagia, apalagi kalau sampe keteter semuanya….dimana bagusnya coba?

Tapi mungkin buat ibu-ibu lain yang jauh lebih handal dalam mengurus anak, ga masalah sama sekali punya anak tiap tahun dan semua terhandle dengan baik. Emangnya saya yang handle diri sendiri aja masih ga bener, apalagi ditambah dua anak kecil yang menuntut perhatian besar? 

Jadi kalo buat saya pribadi, saya sih masih belum ada rencana untuk punya anak kedua dalam waktu dekat ini. 2-3 tahun lagi sih mau banget. Tapi setahun ini enggak dulu deh. Berikut beberapa pertimbangan saya: 

  1. Masih pengen meluapkan cinta yang saya punya ke Reika. Punya anak itu perasaan yang sangat membahagiakan dan menyenangkan (terlepas dari segala lelah, depresi dll). Dan saya merasa punya banyak banget energi cinta yang pengen banget saya bagi untuk anak saya ini. Pengen cium-ciumin dia sepuasnya terus-terusan. Pengen fokus buat melimpahkan sayang dan perhatian buat dia. Gatau ya, rasanya belum rela harus membagi perasaan ini ke bayi lain, yang walaupun bayi sendiri. Emang ya gimanapun anak pertama itu istimewa untuk orang tua. *aku juga anak pertama lho btw* #truskenapa
  2. Long-list pembelajaran buat Reika dan terutama diri saya sendiri. Saya menetapkan target untuk Reika supaya bisa lebih mandiri dan siap ketika dia punya adek nanti. Diantaranya adalah belajar makan sendiri, lulus toilet training, dan menanamkan pemahaman menjadi seorang kakak. Kalo ada yang berargumen semua ini bisa dilakukan sambil jalan, ya sebenernya emang bisa. Tapi kayanya enggak buat saya. Saya ga ngebayangin aja harus nyetoksabar toilet   training dia bangun tengah malam ngajak dia ke kamar mandi sementara saya sendiri lagi hamil gede. Akoh menyerah kk. Berkaitan dengan hal ini, saya pun menargetkan diri saya sendiri untuk settle down dan get myself together as a parent sebelum punya anak kedua. Maksudnya sekarang kan saya masih tergopoh-gopoh banget nih. Rumah kacau balau, badan ga keurus, sering mewek dan murung. Masih cupu dan emotional wreck abis. Nah, saya maunya semua udah aman terkendali dulu, dan saya udah cukup belajar ini itu sebelum punya projek kedua alias adeknya Reika. 
  3. Tuntutan kantor. Dikarenakan saya baru aja cuti selama setahun, maka ada ekspektasi tidak tertulis yang bilang bahwa saya harus balik kerja paling ga untuk setahun ke depan. Dan waktu inilah saya pengen menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan kerja se-profesional mungkin. Biar kalau nantinya harus cuti setahun lagi, paling ga udah lebih advance lagi levelnya dan balik ngantor udah di posisi yang lebih baik dalam skill dan posisi (amin!)
  4. Menikmati jadi mahmud anak baru satu. Cetar banget soalnya kayanya kalo liat di sosmed. Bisa make up bareng anak, jalan bareng anak, belanja bareng anak, dan kayanya lebih gampang mau begitu kalo anak baru satu. Jangan-jangan kalo udah ada dua boro-boro dandan dan pke baju modis, mandi pun udah ga inget lagi terakhir kapan. Jadi saya mau kasih napas ke diri sendiri buat menikmati momen ini dan buat memanjakan diri yang kumus-kumus banget ini setahun terakhir. Terdengat shallow? Yo ben! Hahaha

Sekian beberapa alasan saya. Ada yang punya alasan yang sama dengn saya atau mau nambah alasan lainnya? Boleeeh, bebas, free country #halah

Tapi godaan untuk punya anak lagi emang besar sih. Tiap liat Reika bobo trus ngeh kalo dia udah bukan bayi merah, bawaannya baper trus pengen punya dedek lagi yang bisa digendong – gendong. Tapiiii begitu Reika melek dan ngerusuhin rumah lagi, pikiran itu langsung lenyap seketika! Hahahaha

10 Bulan Reika

  
Ga berasa tau-tau Reika udah 10 bulan 10 hari. Cepet? Banget. Capek? Puoooll!!!

Yang ibu-ibu pasti paham banget nih kalo perkembangan anak usia 9-12 bulan itu bener-bener kilat. Tiba-tiba si Reika bisa berdiri. Tiba-tiba udah bisa turun dari kasur, tangga, sofa dan dengan kaki duluan! *proud mama* #shameless haha

Jadi ada yang lucu soal turun dari kasur ini. Waktu saya lagi nyusuin Reika, dengan iseng saya kasih liat dia video anak bayi yng turun dari kasur pake kaki dulu. Trus saya ngomong ke dia “gini lho nak, kalo mau turun dari kasur, yang diturunin kakinya duluan. Jadi ga nyungsruk”. Lalu videonya saya puter dua kali. Si Reika yang pas itu nyusu ya cuma nonton aja. Secara dia masih 9 bulan, ya saya mah mikirnya dia ga bakal ngerti. 

Taunya….siangnya dia praktek dong di ruang TV! Dia usaha turun dari tangga ruang TV dan pake kaki duluan. Langsung deh eyangnya dan saya terkagum-kagum. Sejak saat itu dia makin ngeh kalo mau turun dari tempat tinggi, ternyata enakan pake kaki dulu. Bocah 9 bulan ternyata otaknua udah jalan ya! *yaiyalah haha* *langsung kasih video Joey Alexander siapa tau keikutan main piano* xD

Anyway, perkembangan yang tiba-tiba ini bikin ngos-ngosan emaknya banget loh! Reika sendiri agaknya nyadar kalo dia mulai bisa ini itu sendiri, sekarang maunya cruising around sendirian. Digendong udah ga betah, selain itu juga udah berat banget! Perasaan sih beratnya segitu-gitu aja, tapi mungkin massa tulangnya kali ya yang nambah! Berat bangeeett! 

Hari minggu ini saya dan Reika bakal balik ke Jepang. Menjalani hari-hari lagi. April saya mulai kerja sih. Mudah-mudahan semua berjalan lancar. Aamiin! 

Dah sekian dulu apdet curhatnya. Kayanya butuh pijet nih sebelum balik Jepang. Hahaha